Senin, 15 Januari 2018

Keutamaan Agung Kota Madinah



Keutamaan Agung Kota Madinah

oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-

Mungkin sudah banyak diantara kita yang telah menginjakkan kakinya di Kota Madinah. Namun tidak mengetahui asal-muasal dan keutamaan kota ini, kota bersejarah yang menyimpan banyak cerita dan kenangan yang membawa ibrah.

Kota Madinah dahulu disebut dengan “Yatsrib”, karena orang yang pertama kali menghuni tempat itu adalah orang yang bernama Yatsrib bin Qoniyah bin Mahlaa’il bin Irom bin Ubail bin Iwadh bin Irom bin Saam bin Nuh -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Tatkala kota itu didatangi dan dihuni oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka beliau menamainya dengan “Thoibah” dan “Thoobah” yang berarti “Bau Harum”.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengganti dengan nama tersebut, karena beliau tak senang dengan kata “Yatsrib” yang bisa bermakna “celaan” atau “perusakan”!!

Demikian yang dinyatakan oleh Al-Imam Yaqut bin Abdillah Al-Hamawiy -rahimahullah- dalam kitabnya yang berjudul Mu’jam Al-Buldan  (4/337) dari seorang Pakar Bahasa, Abul Qosim Az-Zajjajiy -rahimahullah-.

Madinah juga disebut dengan “Madinatur Rasul” (Kota Rasul) -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Selain itu, Madinah biasa juga disebut dengan “Madinah Nabawiyyah” (Kota Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-).

Adapun Al-Madinah Al-Munawwaroh, maka ia adalah penamaan orang-orang belakangan.

Para pembaca yang budiman, kota Madinah adalah tempat turunnya Jibril membawa wahyu kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Dialah tempat tersebarnya keimanan, tempat berkumpulnya kaum Muhajirin dan Anshor. Madinah adalah ibu kota pertama bagi negeri Islam.

Disanalah ditancapkan bendera jihad fi sabilillah, lalu berangkatlah tentara-tentara al-haq darinya demi mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Darinya cahaya bersinar, lalu menerangi bumi dengan cahaya petunjuk. Dia adalah tempat hijrah, dan kehidupan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sampai akhir hayatnya.

Disanalah beliau dikuburkan bersama para sahabatnya -radhiyallahu anhum-. [Lihat Fadhl Al-Madinah wa Adab Suknaaha wa Ziyarotiha (hal. 4) karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad Al-Badr, cet. Mathba’ah An-Narjis, 1423 H]

Kota yang begini istimewa, perlu kiranya kita melihat beberapa sisi keutamaan dan keistimewaannya di sisi Allah dan Rasul-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam- agar kita menghargainya sebagaimana adanya.

Kini kami mengajak anda menelusuri taman-taman sunnah yang menjelaskan hal itu melalui nukilan-nukilan ini:


ÿ Madinah adalah Tanah Haram
Allah -Subhanahu wa Ta'ala- telah mengharamkan kota Madinah sebagaimana Dia telah mengharamkan Kota Makkah.

Allah haramkan penebangan pohon-pohon liarnya dan juga memburu hewan-hewan buruannya, sebagaimana halnya Allah amat mengharamkan berbuat dosa dan pelanggaran di dalamnya.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ
“Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan kota Makkah dan mendoakan kebaikan bagi penduduknya. Sesungguhnya aku pun telah mengharamkan kota Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan kota Makkah dan aku doakan kebaikan (bagi penduduknya) dalam sho’, dan muddnya, seperti yang pernah didoakan  oleh Ibrohim bagi penduduk Makkah”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Buyu’ (no. 2129) dan Muslim dalam Kitab Al-Hajj (no. 454)]

Para ulama menjelaskan bahwa batas tanah haram Madinah, antara dua tanah yang berbatu hitam, yaitu antara Gunung ‘Air sampai ke Gunung Tsaur (sebuah gunung kecil sebelah kiri belakang gunung Uhud).

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
الْمَدِينَةُ حَرَمٌ مِنْ كَذَا إِلَى كَذَا لَا يُقْطَعُ شَجَرُهَا وَلَا يُحْدَثُ فِيهَا حَدَثٌ مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Madinah adalah tanah haram dari sini kesini; tak boleh ditebang pohonnnya, dan tak boleh dilakukan kezhaliman padanya. Barangsiapa yang melakukan kezhaliman padanya, maka atas dirinya laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Fadho’il Al-Madinah (no. 1867) dan Muslim dalam Kitab Al-Hajj (no. 463)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata,
"وَفِيه أَن الْمُحدث والمؤوى لِلْمُحْدِثِ فِي الْإِثْمِ سَوَاءٌ وَالْمُرَادُ بِالْحَدَثِ وَالْمُحْدِثِ الظُّلْمُ وَالظَّالِمُ عَلَى مَا قِيلَ أَوْ مَا هُوَ أَعَمُّ مِنْ ذَلِكَ قَالَ عِيَاضٌ وَاسْتُدِلَّ بِهَذَا عَلَى أَنَّ الْحَدَثَ فِي الْمَدِينَةِ مِنَ الْكَبَائِرِ وَالْمُرَادُ بِلَعْنَةِ الْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ الْمُبَالَغَةُ فِي الْإِبْعَادِ عَنْ رَحْمَةِ اللَّهِ." اهـ من فتح الباري لابن حجر (4/ 109)
“Di dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa orang yang melakukan hadats dan pelindungnya adalah sama. Sedang yang dimaksud dengan “hadats” dan “muhdits” adalah kezholiman dan orang yang zholim; atau ia adalah sesuatu yang lebih umum dari itu. Iyadh berkata, “Hadits ini dijadikan dalil bahwa hadats (kezholiman) di Madinah termasuk dosa besar. Yang dimaksud dengan laknat para malaikat dan manusia adalah kesungguhan dalam menjauhkan (orang yang zholim tersebut) dari rahmat Allah”. [Lihat Fathul Bari (4/109)]

ÿ Madinah Kota Iman
Madinah adalah kota munculnya iman. Disanalah iman tersebar ke seluruh penjuru dunia, sehingga tak ada suatu tempat pun, kecuali dicapai oleh ajaran Islam.

Keimanan yang dahulu terpancar dari Madinah, suatu saat akan kembali berpusat di kota Madinah, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا
“Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah sebagaimana ular kembali ke lubangnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Fadho’il Al-Madinah (no. 1876) dan Muslim dalam Kitab Al-Iman (no. 233)]

Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad -rahimahullah- berkata,
"ومعنى ذلك أنَّ الإيمانَ يتَّجِه إليها ويكون فيها، والمسلمون يَؤُمُّونَها ويَقصِدونها؛ يدفعُهم إلى ذلك الإيمانُ ومَحبَّةُ هذه البُقعةِ المباركةِ التي حرَّمها الله عزَّ وجلَّ." اهـ من فضل المدينة وآداب سكناها وزيارتها (ص: 10)
“Makna hal itu, iman akan mengarah kepadanya dan akan berada padanya, sedang kaum muslimin akan mendatanginya. Mereka terdorong kepada hal itu oleh iman dan kecintaan mereka kepada negeri yang diberi berkah ini, yang Allah -Azza wa Jalla- telah haramkan”. [Lihat Fadhlul Madinah (hal. 10)]

Realita menguatkan hal itu, sebab semakin hari, maka semakin banyak orang yang datang ke Madinah dalam mencari ilmu dan iman.

Disanalah pusat pendidikan Islam, bukan di Australia, Amerika dan negara barat lainnya!!

ÿ Kota yang akan Melahap Negeri-negeri lain
Kota Madinah adalah kota yang akan senatiasa dihiasi dan dikuatkan oleh iman yang terbina di atas ilmu sampai akhir zaman.

Allah -Subhanahu wa Ta'ala- telah memberikan penjagaan khusus bagi Madinah sebagaimana akan datang keterangannya.


Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,
أُمِرْتُ بِقَرْيَةٍ تَأْكُلُ الْقُرَى يَقُولُونَ يَثْرِبُ وَهِيَ الْمَدِينَةُ تَنْفِي النَّاسَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ
“Aku diperintahkan untuk (hijrah) pada suatu negeri yang akan melahap negeri-negeri lainnya. Mereka berkata, “(Kota itu) adalah Yatsrib”, sedang ia adalah Madinah. Dia (kota Madinah) akan membuang (orang-orang buruk), sebagaimana dapur api membuang kotoran besi”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Fadho’il Al-Madinah (1871) dan Muslim dalam Kitab Al-Hajj (no. 3340-488/3)]

Al-Imam Abul Walid Al-Baajiy -rahimahullah- berkata,
"وَمَعْنَى أَكْلِهَا الْقُرَى عَلَى هَذَا الْوَجْهِ أَنَّهُ مِنْهَا يَغْلِبُ عَلَى سَائِرِ الْقُرَى، وَيَفْتَحُ جَمِيعَهَا وَيَأْخُذُ أَهْلُ الْمَدِينَةِ أَكْثَرَ أَمْوَالِهَا، وَيَنْتَقِلُ حُكْمُهُمْ إلَى أَمِيرٍ سَاكِنٍ الْمَدِينَةَ وَتَعُودُ طَاعَةً لَهُ." المنتقى شرح الموطإ (7/ 190)
“Maknanya “Madinah melahap negeri-negeri lain” berdasarkan sisi ini, bahwa darinyalah penduduk Madinah menguasai negeri-negeri lainnya dan merebut seluruhnya serta mengambil mayoritas hartanya, serta pemerintahan mereka (penduduk negeri-negeri itu) akan berpindah kepada seorang pemimpin yang menghuni Madinah dan negeri-negeri itu jadi taat kepadanya”. [Lihat Al-Muntaqo Syarh Al-Muwaththo’ (7/190)]

Lebih jauh, Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy -rahimahullah- berkata,
"وَذَكَرُوا فِي مَعْنَى أَكْلُهَا الْقُرَى وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّهَا مَرْكَزُ جُيُوشِ الْإِسْلَامِ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ فَمِنْهَا فُتِحَتِ الْقُرَى وَغُنِمَتْ أَمْوَالُهَا وَسَبَايَاهَا وَالثَّانِي مَعْنَاهُ أَنَّ أَكْلَهَا وَمِيرَتَهَا تَكُونُ مِنَ الْقُرَى الْمُفْتَتِحَةِ وَإِلَيْهَا تُسَاقُ غَنَائِمُهَا." اهـ من شرح النووي على مسلم (9/ 156)
“Mereka (para ulama) telah menyebutkan tentang makna “Madinah melahap negeri-negeri lain” berupa dua segi. Salah satunya, bahwa Madinah adalah markas pasukan Islam di awal masalah (yakni, saat munculnya Islam). Darinyalah negeri-negeri lain ditaklukkan serta harta dan tawanannya diambil. Kedua, maknanya bahwa makanan kota Madinah berasal dari negeri-negeri yang ditaklukkan. Kepadanya harta-harta ghanimah dibawa”. [Lihat Syarh Shohih Muslim (9/156), cet. Darul Ma’rifah, 1420 H]

Semua ini telah terjadi sejak zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sabahat sampai waktu yang telah ditentukan oleh Allah -Azza wa Jalla-.

ÿ Madinah Lebih Baik Andaikan Mereka Tahu
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengingatkan bahwa kaum muslimin ketika menaklukkan negeri-negeri lain, maka mereka berbondong-bondong ke negeri-negeri itu, karena keindahan dan kemakmuran di dalamnya.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَدْعُو الرَّجُلُ ابْنَ عَمِّهِ وَقَرِيبَهُ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ فِيهَا خَيْرًا مِنْهُ أَلَا إِنَّ الْمَدِينَةَ كَالْكِيرِ تُخْرِجُ الْخَبِيثَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَنْفِيَ الْمَدِينَةُ شِرَارَهَا كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ
“Akan datang suatu zaman pada manusia. Seseorang akan memanggil sepupu dan kerabatnya, “Marilah menuju kepada kelapangan hidup”. Padahal negeri Madinah adalah lebih baik bagi mereka, andai mereka tahu (tentang keutamaannya). Demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tak ada seorang pun diantara mereka yang keluar (dari Madinah) karena benci kepadanya, melainkan Allah akan mengganti orang itu dengan orang yang lebih baik darinya. Ingatlah, sesungguhnya Madinah seperti dapur api yang mengeluarkan kotoran (dari besi). Hari kiamat tak akan tegak sampai negeri Madinah membuang orang-orang buruknya sebagaimana dapur api membuang kotoran besi”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Hajj (no. 3339-487/1)]

Al-Hafizh Abul Fadhl Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata,
"وَالْمُرَادُ أَنَّهَا لَا تَتْرُكُ فِيهَا مَنْ فِي قَلْبِهِ دَغَلٌ بَلْ تُمَيِّزُهُ عَنِ الْقُلُوبِ الصَّادِقَةِ وَتُخْرِجُهُ كَمَا يُمَيِّزُ الْحَدَّادَ رَدِيءَ الْحَدِيدِ مِنْ جَيِّدِهِ." اهـ من فتح الباري لابن حجر (4/ 114)
“Maksudnya, kota Madinah tak akan membiarkan di dalamnya orang-orang yang di dalam hatinya ada kerusakan. Bahkan kota Madinah akan membedakannya (menapisnya) dari hati-hati yang jujur dan mengeluarkannya sebagaimana halnya pandai besi membedakan (menapis) besi buruk dari besi yang baik”. [Lihat Al-Fath (4/114), cet. Darus Salam]

Jadi, kota Madinah adalah kebaikan bagi orang beriman, bila mereka mengetahui keutamaan dan pahala yang diraih, bila bersabar disana, apalagi sampai mati seperti akan datang penjelasannya.

ÿ Di Madinah, terdapat Masjid Nabawi dan Quba’
Cukuplah sebuah keutamaan bagi negeri Madinah, adanya dua masjid utama, yaitu Masjid Nabawi dan Masjid Quba’ (masjid pertama yang dibangun di Madinah).

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِي غَيْرِهِ مِنْ الْمَسَاجِدِ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
“Sholat di masjidku ini, lebih baik dibandingkan 1000 kali sholat pada selainnya, kecuali Masjidil Haram”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Hajj (3362-506/2)]

Adapun keutamaan Masjid Quba’, maka hal ini dijelaskan oleh sebuah hadits yang mulia dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,
الصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ كَعُمْرَة
“Sholat di Masjid Quba’ laksana umrah”. [HR. At-Tirmidziy dalam Kitab Ash-Sholah (no. 324) dan Ibnu Majah dalam Kitab Ash-Sholah wa As-Sunnah fiiha (no. 1411). Hadits di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 3872)]

Al-Imam Al-Hafizh Abul ‘Ulaa Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata,
"أَيِ : الصَّلَاةُ الْوَاحِدَةُ فِيمَا يَعْدِلُ ثَوَابُهَا ثَوَابَ عُمْرَةٍ." اهـ من تحفة الأحوذي (2/ 235)
“Maksudnya, sholat sekali di dalamnya, pahalanya menyamai pahala umrah!!”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (2/288), cet. Dar Ihyaa’ At-Turots Al-Arobiy & Mu’assasah At-Tarikh Al-Arabiy]

Bayangkan berapa banyak pahala dan kebaikan bagi mereka yang ada di Madinah, bila ia mengetahui dan meraih keutamaan ini selama ia disana.

ÿ Selamat dari Penyakit Pes dan Dajjal
Satu lagi keutamaan Madinah, ia dijaga oleh para malaikat agar tidak terserang oleh penyakit tho’uun (pes atau sampar) dan tidak pula mampu dimasuki oleh si Dajjal pendusta.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,
عَلَى أَنْقَابِ الْمَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ وَلَا الدَّجَّالُ
“Pada jalan-jalan masuk kota Madinah ada malaikat-malaikat. Madinah tak akan dimasuki oleh penyakit pes dan tidak pula Dajjal”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Fadho’il Al-Madinah (no. 1880) dan Muslim Kitab Al-Hajj (no. 3337-485/1)]

Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata,
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ فَضِيلَةُ الْمَدِينَةِ وَفَضِيلَةُ سُكْنَاهَا وَحِمَايَتُهَا مِنَ الطاعون والدجال." اهـ من شرح النووي على مسلم (9/ 153)
“Di dalam hadits ini terdapat keutamaan kota Madinah, keutamaan mendiaminya serta terjaganya kota Madinah dari thoo’uun (pes) dan Dajjal”. [Lihat Syarh Shohih Muslim (9/153)]

ÿ Ancaman bagi Orang yang Berbuat Makar bagi Penduduk Madinah
Keutamaan yang dimiliki oleh negeri Madinah amat banyak. Saking mulianya sampai Allah menjaga penduduknya dari makar manusia dan Allah akan menghancurkan si pembuat makar, entah di dunia atau di akhirat.

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
لَا يَكِيدُ أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَحَدٌ إِلَّا انْمَاعَ كَمَا يَنْمَاعُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ
“Tak ada seorang pun yang berbuat makar terhadap penduduk Madinah, melainkan ia meleleh seperti melelehnya garam dalam air”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Hajj (no. 1877]

ÿ Syafa’at bagi Orang yang Bersabar dan Wafat di Madinah
Barangsiapa yang meninggal di Madinah dari kalangan orang-orang yang bertauhid, maka ia akan mendapatkan syafa’at dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di akhirat.

Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا
“Barangsiapa yang mampu untuk mati di Madinah, maka lakukanlah, karena aku akan memberikan syafaat bagi orang yang mati di Madinah”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/74) dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh syaikh Al-Albaniy dalam Difaa’ an Al-Hadits An-Nabawiy (hal. 107)]

Al-Imam Al-Qodhi Iyadh Al-Yahshobiy -rahimahullah- berkata,
"فَيكون تخصيصهم بِهَذَا كُله مزية زِيَادَة منزلَة وحظوة." اهـ من تنوير الحوالك شرح موطأ مالك (2/ 201)
“Pengkhususan mereka dalam perkara seperti ini semuanya, memiliki keutamaan sebagai tambahan derajat dan posisi (di sisi Allah)”. [Lihat Tanwiir Al-Hawalik (2/201) oleh As-Suyuthiy]

Demikian sekelumit dari keutamaan dan kemuliaan Kota Madinah, kota utama yang merupakan pusat dan sumber tersebarnya iman ke seluruh penjuru dunia.

Setelah mengetahui beberapa keutamaan yang dimiliki oleh Kota Madinah, maka terjawablah keheranan kita tentang sebuah pertanyaan besar, “Mengapa Allah –Azza wa Jalla- memilih Kota Madinah, sebagai hijrah dan dakwah bagi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya –radhiyallahu anhum-?”

* NB :


Tulisan ini rampung diedit dan diperiksa kembali pada tanggal 27 Robi’ Al-Akhir 1439 H, Ma’had As-Sunnah.


====================================

DUKUNG KAMI

Dalam membantu pembangunan 
MASJID DAR AL-FALAH, 
milik Ahlus Sunnah Pampang, Makassar.

"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".
[HR. Al-Bukhori & Muslim]

# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

Rekening BANK MANDIRI
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 1740000532291

atau 

Rekening BANK MANDIRI SYARIAH 
atas nama
Yayasan Dar Al Falah

No. Rekening : 7115_1587_18

Kontak Person :

PANITIA PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)

Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.



NB :
Lokasi Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar




Tidak ada komentar:

Posting Komentar