Keutamaan Agung Kota Madinah
Keutamaan Agung Kota
Madinah
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu
Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-
Mungkin sudah banyak diantara kita yang telah
menginjakkan kakinya di Kota Madinah. Namun tidak mengetahui asal-muasal
dan keutamaan kota ini, kota bersejarah yang menyimpan banyak cerita dan
kenangan yang membawa ibrah.
Kota Madinah dahulu disebut dengan “Yatsrib”,
karena orang yang pertama kali menghuni tempat itu adalah orang yang bernama Yatsrib
bin Qoniyah bin Mahlaa’il bin Irom bin Ubail bin Iwadh bin Irom bin Saam bin
Nuh -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Tatkala kota itu didatangi dan dihuni oleh
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka beliau menamainya dengan “Thoibah”
dan “Thoobah” yang berarti “Bau Harum”.
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengganti
dengan nama tersebut, karena beliau tak senang dengan kata “Yatsrib” yang bisa
bermakna “celaan” atau “perusakan”!!
Demikian yang dinyatakan oleh Al-Imam Yaqut
bin Abdillah Al-Hamawiy -rahimahullah- dalam kitabnya yang berjudul Mu’jam
Al-Buldan (4/337) dari seorang
Pakar Bahasa, Abul Qosim Az-Zajjajiy -rahimahullah-.
Madinah juga disebut dengan “Madinatur
Rasul” (Kota Rasul) -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Selain itu, Madinah biasa juga disebut dengan
“Madinah Nabawiyyah” (Kota Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-).
Adapun Al-Madinah Al-Munawwaroh, maka ia
adalah penamaan orang-orang belakangan.
Para pembaca yang budiman, kota Madinah
adalah tempat turunnya Jibril membawa wahyu kepada Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam-.
Dialah tempat tersebarnya keimanan, tempat
berkumpulnya kaum Muhajirin dan Anshor. Madinah adalah ibu kota pertama bagi
negeri Islam.
Disanalah ditancapkan bendera jihad fi
sabilillah, lalu berangkatlah tentara-tentara al-haq darinya demi mengeluarkan
manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Darinya cahaya bersinar, lalu menerangi bumi
dengan cahaya petunjuk. Dia adalah tempat hijrah, dan kehidupan Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- sampai akhir hayatnya.
Disanalah beliau dikuburkan bersama para
sahabatnya -radhiyallahu anhum-. [Lihat Fadhl Al-Madinah wa Adab Suknaaha
wa Ziyarotiha (hal. 4) karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad
Al-Badr, cet. Mathba’ah An-Narjis, 1423 H]
Kota yang begini istimewa, perlu kiranya kita
melihat beberapa sisi keutamaan dan keistimewaannya di sisi Allah dan Rasul-Nya
-Shallallahu alaihi wa sallam- agar kita menghargainya sebagaimana adanya.
Kini kami mengajak anda menelusuri
taman-taman sunnah yang menjelaskan hal itu melalui nukilan-nukilan ini:
ÿ Madinah
adalah Tanah Haram
Allah -Subhanahu wa Ta'ala- telah
mengharamkan kota Madinah sebagaimana Dia telah mengharamkan Kota Makkah.
Allah haramkan penebangan pohon-pohon liarnya
dan juga memburu hewan-hewan buruannya, sebagaimana halnya Allah amat
mengharamkan berbuat dosa dan pelanggaran di dalamnya.
Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
إِنَّ
إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ
كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ
مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ
“Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan kota
Makkah dan mendoakan kebaikan bagi penduduknya. Sesungguhnya aku pun telah
mengharamkan kota Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan kota Makkah
dan aku doakan kebaikan (bagi penduduknya) dalam sho’, dan muddnya, seperti
yang pernah didoakan oleh Ibrohim bagi penduduk
Makkah”.
[HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Buyu’ (no. 2129) dan Muslim dalam
Kitab Al-Hajj (no. 454)]
Para ulama menjelaskan bahwa batas tanah
haram Madinah, antara dua tanah yang berbatu hitam, yaitu antara Gunung ‘Air
sampai ke Gunung Tsaur (sebuah gunung kecil sebelah kiri belakang gunung
Uhud).
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-
bersabda,
الْمَدِينَةُ
حَرَمٌ مِنْ كَذَا إِلَى كَذَا لَا يُقْطَعُ شَجَرُهَا وَلَا يُحْدَثُ فِيهَا حَدَثٌ
مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Madinah adalah tanah haram dari sini kesini;
tak boleh ditebang pohonnnya, dan tak boleh dilakukan kezhaliman padanya.
Barangsiapa yang melakukan kezhaliman padanya, maka atas dirinya laknat Allah,
malaikat dan manusia seluruhnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Fadho’il
Al-Madinah (no. 1867) dan Muslim dalam Kitab Al-Hajj (no.
463)]
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah-
berkata,
"وَفِيه أَن الْمُحدث والمؤوى لِلْمُحْدِثِ فِي الْإِثْمِ
سَوَاءٌ وَالْمُرَادُ بِالْحَدَثِ وَالْمُحْدِثِ الظُّلْمُ وَالظَّالِمُ عَلَى مَا
قِيلَ أَوْ مَا هُوَ أَعَمُّ مِنْ ذَلِكَ قَالَ عِيَاضٌ وَاسْتُدِلَّ بِهَذَا
عَلَى أَنَّ الْحَدَثَ فِي الْمَدِينَةِ مِنَ الْكَبَائِرِ وَالْمُرَادُ
بِلَعْنَةِ الْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ الْمُبَالَغَةُ فِي الْإِبْعَادِ عَنْ
رَحْمَةِ اللَّهِ." اهـ من فتح الباري لابن حجر (4/ 109)
“Di dalam hadits ini terdapat keterangan
bahwa orang yang melakukan hadats dan pelindungnya adalah sama. Sedang yang
dimaksud dengan “hadats” dan “muhdits” adalah kezholiman dan orang yang zholim;
atau ia adalah sesuatu yang lebih umum dari itu. Iyadh berkata, “Hadits
ini dijadikan dalil bahwa hadats (kezholiman) di Madinah termasuk dosa besar.
Yang dimaksud dengan laknat para malaikat dan manusia adalah kesungguhan dalam
menjauhkan (orang yang zholim tersebut) dari rahmat Allah”. [Lihat Fathul
Bari (4/109)]
ÿ Madinah
Kota Iman
Madinah adalah kota munculnya iman. Disanalah
iman tersebar ke seluruh penjuru dunia, sehingga tak ada suatu tempat pun,
kecuali dicapai oleh ajaran Islam.
Keimanan yang dahulu terpancar dari Madinah,
suatu saat akan kembali berpusat di kota Madinah, sebagaimana yang dikabarkan
oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ
إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا
“Sesungguhnya
iman akan kembali ke Madinah sebagaimana ular kembali ke lubangnya”. [HR. Al-Bukhoriy
dalam Fadho’il Al-Madinah (no. 1876) dan Muslim dalam Kitab
Al-Iman (no. 233)]
Syaikh
Abdul Muhsin Al-Abbad -rahimahullah- berkata,
"ومعنى ذلك أنَّ الإيمانَ يتَّجِه إليها
ويكون فيها، والمسلمون يَؤُمُّونَها ويَقصِدونها؛ يدفعُهم إلى ذلك الإيمانُ
ومَحبَّةُ هذه البُقعةِ المباركةِ التي حرَّمها الله عزَّ وجلَّ." اهـ من فضل
المدينة وآداب سكناها وزيارتها (ص: 10)
“Makna
hal itu, iman akan mengarah kepadanya dan akan berada padanya, sedang kaum
muslimin akan mendatanginya. Mereka terdorong kepada hal itu oleh iman dan
kecintaan mereka kepada negeri yang diberi berkah ini, yang Allah -Azza wa
Jalla- telah haramkan”. [Lihat Fadhlul Madinah (hal. 10)]
Realita
menguatkan hal itu, sebab semakin hari, maka semakin banyak orang yang datang
ke Madinah dalam mencari ilmu dan iman.
Disanalah
pusat pendidikan Islam, bukan di Australia, Amerika dan negara barat lainnya!!
ÿ Kota
yang akan Melahap Negeri-negeri lain
Kota
Madinah adalah kota yang akan senatiasa dihiasi dan dikuatkan oleh iman yang
terbina di atas ilmu sampai akhir zaman.
Allah
-Subhanahu wa Ta'ala- telah memberikan penjagaan khusus bagi Madinah
sebagaimana akan datang keterangannya.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,
أُمِرْتُ بِقَرْيَةٍ تَأْكُلُ
الْقُرَى يَقُولُونَ يَثْرِبُ وَهِيَ الْمَدِينَةُ تَنْفِي النَّاسَ كَمَا يَنْفِي
الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ
“Aku
diperintahkan untuk (hijrah) pada suatu negeri yang akan melahap negeri-negeri
lainnya. Mereka berkata, “(Kota itu) adalah Yatsrib”, sedang ia adalah Madinah.
Dia (kota Madinah) akan membuang (orang-orang buruk), sebagaimana dapur api
membuang kotoran besi”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Fadho’il Al-Madinah
(1871) dan Muslim dalam Kitab Al-Hajj (no. 3340-488/3)]
Al-Imam
Abul Walid Al-Baajiy
-rahimahullah- berkata,
"وَمَعْنَى أَكْلِهَا الْقُرَى عَلَى هَذَا الْوَجْهِ
أَنَّهُ مِنْهَا يَغْلِبُ عَلَى سَائِرِ الْقُرَى، وَيَفْتَحُ جَمِيعَهَا
وَيَأْخُذُ أَهْلُ الْمَدِينَةِ أَكْثَرَ أَمْوَالِهَا، وَيَنْتَقِلُ حُكْمُهُمْ
إلَى أَمِيرٍ سَاكِنٍ الْمَدِينَةَ وَتَعُودُ طَاعَةً لَهُ." المنتقى شرح
الموطإ (7/ 190)
“Maknanya
“Madinah melahap negeri-negeri lain” berdasarkan sisi ini, bahwa darinyalah
penduduk Madinah menguasai negeri-negeri lainnya dan merebut seluruhnya serta
mengambil mayoritas hartanya, serta pemerintahan mereka (penduduk negeri-negeri
itu) akan berpindah kepada seorang pemimpin yang menghuni Madinah dan
negeri-negeri itu jadi taat kepadanya”. [Lihat Al-Muntaqo Syarh Al-Muwaththo’
(7/190)]
Lebih
jauh, Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy -rahimahullah-
berkata,
"وَذَكَرُوا فِي مَعْنَى أَكْلُهَا
الْقُرَى وَجْهَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنَّهَا مَرْكَزُ جُيُوشِ الْإِسْلَامِ فِي
أَوَّلِ الْأَمْرِ فَمِنْهَا فُتِحَتِ الْقُرَى وَغُنِمَتْ أَمْوَالُهَا
وَسَبَايَاهَا وَالثَّانِي مَعْنَاهُ أَنَّ أَكْلَهَا وَمِيرَتَهَا تَكُونُ مِنَ
الْقُرَى الْمُفْتَتِحَةِ وَإِلَيْهَا تُسَاقُ غَنَائِمُهَا." اهـ من شرح
النووي على مسلم (9/ 156)
“Mereka
(para ulama) telah menyebutkan tentang makna “Madinah melahap negeri-negeri
lain” berupa dua segi. Salah satunya, bahwa Madinah adalah markas pasukan Islam
di awal masalah (yakni, saat munculnya Islam). Darinyalah negeri-negeri lain
ditaklukkan serta harta dan tawanannya diambil. Kedua, maknanya bahwa makanan
kota Madinah berasal dari negeri-negeri yang ditaklukkan. Kepadanya harta-harta
ghanimah dibawa”. [Lihat
Syarh Shohih Muslim (9/156), cet. Darul Ma’rifah, 1420 H]
Semua
ini telah terjadi sejak zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para
sabahat sampai waktu yang telah ditentukan oleh Allah -Azza wa Jalla-.
ÿ Madinah
Lebih Baik Andaikan Mereka Tahu
Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengingatkan bahwa kaum muslimin ketika
menaklukkan negeri-negeri lain, maka mereka berbondong-bondong ke negeri-negeri
itu, karena keindahan dan kemakmuran di dalamnya.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ
زَمَانٌ يَدْعُو الرَّجُلُ ابْنَ عَمِّهِ وَقَرِيبَهُ هَلُمَّ إِلَى الرَّخَاءِ هَلُمَّ
إِلَى الرَّخَاءِ وَالْمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَخْرُجُ مِنْهُمْ أَحَدٌ رَغْبَةً عَنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ
فِيهَا خَيْرًا مِنْهُ أَلَا إِنَّ الْمَدِينَةَ كَالْكِيرِ تُخْرِجُ الْخَبِيثَ لَا
تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَنْفِيَ الْمَدِينَةُ شِرَارَهَا كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ
خَبَثَ الْحَدِيدِ
“Akan
datang suatu zaman pada manusia. Seseorang akan memanggil sepupu dan
kerabatnya, “Marilah menuju kepada kelapangan hidup”. Padahal negeri Madinah
adalah lebih baik bagi mereka, andai mereka tahu (tentang keutamaannya). Demi
Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tak ada seorang pun diantara mereka yang
keluar (dari Madinah) karena benci kepadanya, melainkan Allah akan mengganti
orang itu dengan orang yang lebih baik darinya. Ingatlah, sesungguhnya Madinah
seperti dapur api yang mengeluarkan kotoran (dari besi). Hari kiamat tak akan
tegak sampai negeri Madinah membuang orang-orang buruknya sebagaimana dapur api
membuang kotoran besi”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Hajj (no.
3339-487/1)]
Al-Hafizh
Abul Fadhl Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata,
"وَالْمُرَادُ
أَنَّهَا لَا تَتْرُكُ فِيهَا مَنْ فِي قَلْبِهِ دَغَلٌ بَلْ تُمَيِّزُهُ عَنِ
الْقُلُوبِ الصَّادِقَةِ وَتُخْرِجُهُ كَمَا يُمَيِّزُ الْحَدَّادَ رَدِيءَ
الْحَدِيدِ مِنْ جَيِّدِهِ." اهـ من فتح الباري لابن حجر (4/ 114)
“Maksudnya,
kota Madinah tak akan membiarkan di dalamnya orang-orang yang di dalam hatinya
ada kerusakan. Bahkan kota Madinah akan membedakannya (menapisnya) dari
hati-hati yang jujur dan mengeluarkannya sebagaimana halnya pandai besi
membedakan (menapis) besi buruk dari besi yang baik”. [Lihat Al-Fath
(4/114), cet. Darus Salam]
Jadi,
kota Madinah adalah kebaikan bagi orang beriman, bila mereka mengetahui
keutamaan dan pahala yang diraih, bila bersabar disana, apalagi sampai mati
seperti akan datang penjelasannya.
ÿ Di
Madinah, terdapat Masjid Nabawi dan Quba’
Cukuplah
sebuah keutamaan bagi negeri Madinah, adanya dua masjid utama, yaitu Masjid Nabawi
dan Masjid Quba’ (masjid pertama yang dibangun di Madinah).
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي
هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِي غَيْرِهِ مِنْ الْمَسَاجِدِ إِلَّا الْمَسْجِدَ
الْحَرَامَ
“Sholat
di masjidku ini, lebih baik dibandingkan 1000 kali sholat pada selainnya,
kecuali Masjidil Haram”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Hajj
(3362-506/2)]
Adapun
keutamaan Masjid Quba’, maka hal ini dijelaskan oleh sebuah hadits yang
mulia dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,
الصَّلَاةُ فِي مَسْجِدِ
قُبَاءٍ كَعُمْرَة
“Sholat
di Masjid Quba’ laksana umrah”. [HR. At-Tirmidziy dalam Kitab
Ash-Sholah (no. 324) dan Ibnu Majah dalam Kitab Ash-Sholah wa
As-Sunnah fiiha (no. 1411). Hadits di-shohih-kan oleh Syaikh
Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 3872)]
Al-Imam
Al-Hafizh Abul ‘Ulaa Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata,
"أَيِ : الصَّلَاةُ
الْوَاحِدَةُ فِيمَا يَعْدِلُ ثَوَابُهَا ثَوَابَ عُمْرَةٍ." اهـ من تحفة
الأحوذي (2/ 235)
“Maksudnya,
sholat sekali di dalamnya, pahalanya menyamai pahala umrah!!”. [Lihat Tuhfah
Al-Ahwadziy (2/288), cet. Dar Ihyaa’ At-Turots Al-Arobiy &
Mu’assasah At-Tarikh Al-Arabiy]
Bayangkan
berapa banyak pahala dan kebaikan bagi mereka yang ada di Madinah, bila ia
mengetahui dan meraih keutamaan ini selama ia disana.
ÿ Selamat
dari Penyakit Pes dan Dajjal
Satu
lagi keutamaan Madinah, ia dijaga oleh para malaikat agar tidak terserang oleh
penyakit tho’uun (pes atau sampar) dan tidak pula mampu dimasuki oleh si
Dajjal pendusta.
Rasulullah
-Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,
عَلَى أَنْقَابِ الْمَدِينَةِ
مَلَائِكَةٌ لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ وَلَا الدَّجَّالُ
“Pada
jalan-jalan masuk kota Madinah ada malaikat-malaikat. Madinah tak akan dimasuki
oleh penyakit pes dan tidak pula Dajjal”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab
Fadho’il Al-Madinah (no. 1880) dan Muslim Kitab Al-Hajj (no.
3337-485/1)]
Al-Imam
Abu Zakariyya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata,
وَفِي هَذَا
الْحَدِيثِ فَضِيلَةُ الْمَدِينَةِ وَفَضِيلَةُ سُكْنَاهَا وَحِمَايَتُهَا مِنَ
الطاعون والدجال." اهـ من شرح النووي على مسلم (9/ 153)
“Di
dalam hadits ini terdapat keutamaan kota Madinah, keutamaan mendiaminya serta
terjaganya kota Madinah dari thoo’uun (pes) dan Dajjal”. [Lihat Syarh
Shohih Muslim (9/153)]
ÿ Ancaman
bagi Orang yang Berbuat Makar bagi Penduduk Madinah
Keutamaan
yang dimiliki oleh negeri Madinah amat banyak. Saking mulianya sampai Allah menjaga
penduduknya dari makar manusia dan Allah akan menghancurkan si pembuat makar,
entah di dunia atau di akhirat.
Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
لَا يَكِيدُ أَهْلَ الْمَدِينَةِ
أَحَدٌ إِلَّا انْمَاعَ كَمَا يَنْمَاعُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ
“Tak
ada seorang pun yang berbuat makar terhadap penduduk Madinah, melainkan ia
meleleh seperti melelehnya garam dalam air”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab
Al-Hajj (no. 1877]
ÿ Syafa’at
bagi Orang yang Bersabar dan Wafat di Madinah
Barangsiapa
yang meninggal di Madinah dari kalangan orang-orang yang bertauhid, maka ia
akan mendapatkan syafa’at dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- di
akhirat.
Beliau
-Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ
بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا
“Barangsiapa
yang mampu untuk mati di Madinah, maka lakukanlah, karena aku akan memberikan
syafaat bagi orang yang mati di Madinah”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/74)
dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh syaikh Al-Albaniy dalam Difaa’
an Al-Hadits An-Nabawiy (hal. 107)]
Al-Imam
Al-Qodhi Iyadh Al-Yahshobiy -rahimahullah- berkata,
"فَيكون تخصيصهم
بِهَذَا كُله مزية زِيَادَة منزلَة وحظوة." اهـ من تنوير الحوالك شرح موطأ
مالك (2/ 201)
“Pengkhususan
mereka dalam perkara seperti ini semuanya, memiliki keutamaan sebagai tambahan
derajat dan posisi (di sisi Allah)”. [Lihat Tanwiir Al-Hawalik (2/201)
oleh As-Suyuthiy]
Demikian
sekelumit dari keutamaan dan kemuliaan Kota Madinah, kota utama yang merupakan
pusat dan sumber tersebarnya iman ke seluruh penjuru dunia.
Setelah
mengetahui beberapa keutamaan yang dimiliki oleh Kota Madinah, maka terjawablah
keheranan kita tentang sebuah pertanyaan besar, “Mengapa Allah –Azza wa
Jalla- memilih Kota Madinah, sebagai hijrah dan dakwah bagi Nabi -Shallallahu
alaihi wa sallam- dan para sahabatnya –radhiyallahu anhum-?”
* NB :
Tulisan
ini rampung diedit dan diperiksa kembali pada tanggal 27 Robi’ Al-Akhir 1439 H,
Ma’had As-Sunnah.
====================================
DUKUNG KAMI
Dalam membantu pembangunan
MASJID DAR AL-FALAH,
milik Ahlus Sunnah Pampang, Makassar.
"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".
[HR. Al-Bukhori & Muslim]
# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :
Rekening BANK MANDIRI
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 1740000532291
atau
Rekening BANK MANDIRI SYARIAH
atas nama
Yayasan Dar Al Falah
No. Rekening : 7115_1587_18
Kontak Person :
PANITIA PEMBANGUNAN
0821-9065-5492
(Muhammad)
Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.
NB :
Lokasi Masjid Dar Al-Falah Jln. Pampang 4, Belakang Rusun Mahasiswa UMI, Makassar

Komentar
Posting Komentar