Pesan-pesan Terindah bagi Para Pencari Ilmu agar Bersabar dan Ikhlash dalam Mencari Ilmu dari Kisah Rihlah Ilmiah Para Salaf
Pesan-pesan Terindah bagi Para Pencari Ilmu agar
Bersabar dan Ikhlash
dalam Mencari Ilmu dari Kisah Rihlah Ilmiah Para
Salaf
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
Assalamu alaikum.
Perjalanan dalam mencari ilmu, bukanlah sesuatu yang ringan. Akan tetapi ia adalah sebuah urusan besar yang tidak mungkin dilakukan,
melainkan oleh orang –orang yang diberi
taufik dari sisi Allah –ta’ala- untuk meniti jalan-jalan surga.
Pernahkah anda menoleh ke kiri dan ke kanan anda.
Anda akan menemukan ribuan manusia, bahkan mungkin jutaan diantara mereka tidak
diberi kenikmatan melakukan rihlah dalam mencari ilmu.
Padahal ilmu wahyu adalah buah yang harus dipetik
dan dijolok dari pohonnya (yakni, para ulama dan orang-orang berilmu). Namun
tentunya, dalam memetiknya, seorang pencari ilmu dan pencintanya membutuhkan
kesabaran di dalamnya.
Tidak ada yang merasakan manisnya ilmu, kecuali
mereka yang melakukan rihlah (perjalanan
panjang), dengan penuh keikhlasan dalam meraihnya.
Keihkalasan itu akan tergambar dalam kesabaran
mereka dalam mendatangi ilmu dari sumbernya, walaupun harus menempuh perjalanan
berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun.
Ia tidak akan meninggalkan sumber mata air ilmu itu,
melainkan ia telah meminumnya dan menikmatinya dengan sepuas-puasnya, serta ia
akan membawanya pulang ke negerinya. Karena, ia sadar bahwa sebaik-baik bekal
ke negerinya (yakni, kampung akhirat) adalah ILMU WAHYU yang tertuang dalam
Al-Qur’an dan Sunnah yang shohihah.
Ketahuilah, ilmu wahyu akan melahirkan ketaqwaan pada diri seorang hamba. Sebab, ilmu
adalah petunjuk dan penerang bagi jalan-jalan ketaatan dan pengingat akan
bahaya jalan-jalan dosa dan maksiat.
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ
اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ،
“Siapapun
yang menempuh suatu jalan, sedang ia mencari ilmu di dalamnya, niscaya Allah
akan mudahkan baginya dengan hal itu suatu jalan menuju surga.” [HR. Muslim
dalam Shohih-nya (2699)]
Ketahuilah –wahai saudara-saudaraku-, ilmu itu
bukanlah sesuatu yang diambil begitu saja, tanpa ada pengorbanan.
Ilmu bagaikan air yang terdapat di sebuah sumur,
yang harus ditimba dengan tenaga. Semakin banyak air yang kita timba, maka
semakin banyak pula kebutuhan dan kemaslahatan kita akan terpenuhi.
Namun jika anda malas menimbanya, atau bahkan
mungkin tidak mau menimbanya, maka disinilah pokok kerugian anda, bahkan
kebinasaan anda.
Jika anda adalah salah seorang diantara penuntut
ilmu syar’i (atau ilmu agama), maka bersyukurlah kepada Allah, dan iringilah
kesyukuran itu dengan kesabaran dalam meraih buah manis yang bernama “ilmu”
itu!
Jangan pernah mengeluh dalam mencari ilmu, karena
kurangnya ilmu, jauh dari keluarga dan handai taulan, kurangnya tidur atau
istirahat, kurangnya harta benda, asingnya negeri pencarian ilmu, dan lain
diantara onak dan duri yang harus anda lalui dalam hari-hari kesabaran menuntut
ilmu
Ketahuilah, apa yang anda derita, tidaklah seberat
apa yang dialami oleh para ulama yang merupakan pionir dan teladan dalam
mencari ilmu!
Derita kalian hari ini hanyalah secuil dari derita
mereka! Disinilah pentingnya anda mengetahui lika-liku rihlah dan perjalanan
jauh mereka dalam mencari ilmu, sampai mereka menempuh ribuan kilometer dengan
berkendaraan unta, keledai, bagal. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang
berjalan kaki dalam jarak tempuh tersebut.
Lautan, padang pasir, padang rumput, hutan belantara,
gunung, lembah-lembah, oase, dan hewan-hewan buas, serta para perompak dan
perampok, mereka telah lalui dengan penuh ketabahan, air mata, bahkan mungkin
darah!
Akan tetapi semua itu terasa ringan indah, saat
hati-hati mereka terisi dengan kerinduan kepada ilmu dan pahala yang besar.
Kedua hal itu bagaikan motor penggerak yang dapat
mengangkut gunung-gunung menjulang. Sebuah kejaiban yang luar biasa, para salaf
(pendahulu) kita dari kalangan para ulama menorehkan sejarah yang gemilang dan
hebat dalam mencari ilmu di berbagai belahan bumi saat itu.
Kemudian dari situ, lahirlah karya tulis dan
literarur yang juga luas biasa dari sisi kualitas dan kuantitas. Karya tulis
mereka bagaikan karya tulis yang dibuat pada era modern yang penuh dengan alat
canggih berupa computer.
Dengan rapi dan indahnya, ia mengalahkan karya tulis
para penyandang gelar-gelar akademisi tertinggi di masa ini.
Aku ingin membuktikan kepada anda melalui sebuah
contoh, KITAB SHOHIH AL-BUKHORIY, karya Muhammad bin Ismail Al-Jufi Al-Bukhoriy
–rahimahullah-.
Jika anda membukanya tanpa latar belakang
pengetahuan tentang kitab ini, maka anda pasti menilai bahwa kitab ini ditulis
oleh seorang professor handal di zaman ini.
Terlihat dari susunannya yang amat rapi yang
tersusun dalam kategori kitab, lalu di bawah kitab, terdapat rincian berupa
bab-bab. Lalu bab-bab itu berisi istinbath Penulis.
Dari sisi periwayatnnya, riwayat-riwayat Shohih
Al-Bukhoriy memiliki syarat yang amat ketat, dimana syarat beliau menjadikan
kitab itu menjadi yang terbaik dan ter-shohih setelah Kitabullah. Belum lagi,
dalam mengulang-ulang riwayat yang sama dalam berbagai bab dengan perawi hadits
yang berbeda, menjadikan kitab itu sebagai salah satu referensi dalam
pengunpulan jalur-jalur periwayatan bagi suatu hadits.
Apa yang ungkapkan dari kejaiban literature para
ulama –sebagai contoh SHOHIH AL BUKHARIY- dengan segala keterbatasan alat-alat
pendukung mereka, yang hanya berbekal pena, kertas yang amat sederhana, dan
sebuah pelita di malam hari, bahkan terkadang menggunakan cahaya bulan; semua
ini akan membuat kita tercengang dan bertanya di dalam hati, “Apa yang
menyebabkan lahirnya karya tulis yang luar biasa seperti itu?!
Tentunya, karena berkat KESABARAN & KEIKHLASAN
para ulama selaku pencari ilmu di masa itu.
Hal ini tentunya sama persis dengan para pencari
dunia, dari mana mereka dapatkan harta benda yang melimpah ruah. Tentunya, dari
usaha yang penuh kesabaran.
Walaupun tentunya keutamaan ilmu agama tidak dapat
kita bandingkan dengan dunia! Sebab, ilmu agama adalah jauh lebih berharga disbanding
dunia!
Tapi tahukah anda bagaimana kisah derita para ulama
terdahulu dari para nabi, kalangan sahabat, para tabi’in, dan ulama-ulama yang
mengikuti langkah mereka selanjutnya?
Demi membantu anda dalam menggambarkan kisah pilu,
dan derita berat mereka dalam mencari ilmu agama, maka mari kita simak sebuah
ceramah yang berjudul : “Kisah Derita Para Penuntut Ilmu”, yang bisa anda
download dan dengar disini : https://goo.gl/wXzO5a

Komentar
Posting Komentar