Minggu, 07 Mei 2017

Pesan-pesan Terindah bagi Para Pencari Ilmu agar Bersabar dan Ikhlash dalam Mencari Ilmu dari Kisah Rihlah Ilmiah Para Salaf



Pesan-pesan Terindah bagi Para Pencari Ilmu agar Bersabar dan Ikhlash
dalam Mencari Ilmu dari Kisah Rihlah Ilmiah Para Salaf

oleh : 
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. 
-hafizhahullah-

Assalamu alaikum.
Perjalanan dalam mencari ilmu, bukanlah sesuatu yang ringan. Akan tetapi ia adalah sebuah urusan besar yang tidak mungkin dilakukan, melainkan oleh  orang –orang yang diberi taufik dari sisi Allah –ta’ala- untuk meniti jalan-jalan surga.

Pernahkah anda menoleh ke kiri dan ke kanan anda. Anda akan menemukan ribuan manusia, bahkan mungkin jutaan diantara mereka tidak diberi kenikmatan melakukan rihlah dalam mencari ilmu.

Padahal ilmu wahyu adalah buah yang harus dipetik dan dijolok dari pohonnya (yakni, para ulama dan orang-orang berilmu). Namun tentunya, dalam memetiknya, seorang pencari ilmu dan pencintanya membutuhkan kesabaran di dalamnya.

Tidak ada yang merasakan manisnya ilmu, kecuali mereka yang melakukan rihlah  (perjalanan panjang), dengan penuh keikhlasan dalam meraihnya.


Keihkalasan itu akan tergambar dalam kesabaran mereka dalam mendatangi ilmu dari sumbernya, walaupun harus menempuh perjalanan berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun.

Ia tidak akan meninggalkan sumber mata air ilmu itu, melainkan ia telah meminumnya dan menikmatinya dengan sepuas-puasnya, serta ia akan membawanya pulang ke negerinya. Karena, ia sadar bahwa sebaik-baik bekal ke negerinya (yakni, kampung akhirat) adalah ILMU WAHYU yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang shohihah.

Ketahuilah,  ilmu wahyu akan melahirkan  ketaqwaan pada diri seorang hamba. Sebab, ilmu adalah petunjuk dan penerang bagi jalan-jalan ketaatan dan pengingat akan bahaya jalan-jalan dosa dan maksiat.
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ،
“Siapapun yang menempuh suatu jalan, sedang ia mencari ilmu di dalamnya, niscaya Allah akan mudahkan baginya dengan hal itu suatu jalan menuju surga.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2699)]

Ketahuilah –wahai saudara-saudaraku-, ilmu itu bukanlah sesuatu yang diambil begitu saja, tanpa ada pengorbanan.

Ilmu bagaikan air yang terdapat di sebuah sumur, yang harus ditimba dengan tenaga. Semakin banyak air yang kita timba, maka semakin banyak pula kebutuhan dan kemaslahatan kita akan terpenuhi.

Namun jika anda malas menimbanya, atau bahkan mungkin tidak mau menimbanya, maka disinilah pokok kerugian anda, bahkan kebinasaan anda.

Jika anda adalah salah seorang diantara penuntut ilmu syar’i (atau ilmu agama), maka bersyukurlah kepada Allah, dan iringilah kesyukuran itu dengan kesabaran dalam meraih buah manis yang bernama “ilmu” itu!

Jangan pernah mengeluh dalam mencari ilmu, karena kurangnya ilmu, jauh dari keluarga dan handai taulan, kurangnya tidur atau istirahat, kurangnya harta benda, asingnya negeri pencarian ilmu, dan lain diantara onak dan duri yang harus anda lalui dalam hari-hari kesabaran menuntut ilmu

Ketahuilah, apa yang anda derita, tidaklah seberat apa yang dialami oleh para ulama yang merupakan pionir dan teladan dalam mencari ilmu!

Derita kalian hari ini hanyalah secuil dari derita mereka! Disinilah pentingnya anda mengetahui lika-liku rihlah dan perjalanan jauh mereka dalam mencari ilmu, sampai mereka menempuh ribuan kilometer dengan berkendaraan unta, keledai, bagal. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang berjalan kaki dalam jarak tempuh tersebut.

Lautan, padang pasir, padang rumput, hutan belantara, gunung, lembah-lembah, oase, dan hewan-hewan buas, serta para perompak dan perampok, mereka telah lalui dengan penuh ketabahan, air mata, bahkan mungkin darah!

Akan tetapi semua itu terasa ringan indah, saat hati-hati mereka terisi dengan kerinduan kepada ilmu dan pahala yang besar.

Kedua hal itu bagaikan motor penggerak yang dapat mengangkut gunung-gunung menjulang. Sebuah kejaiban yang luar biasa, para salaf (pendahulu) kita dari kalangan para ulama menorehkan sejarah yang gemilang dan hebat dalam mencari ilmu di berbagai belahan bumi saat itu.

Kemudian dari situ, lahirlah karya tulis dan literarur yang juga luas biasa dari sisi kualitas dan kuantitas. Karya tulis mereka bagaikan karya tulis yang dibuat pada era modern yang penuh dengan alat canggih berupa computer.

Dengan rapi dan indahnya, ia mengalahkan karya tulis para penyandang gelar-gelar akademisi tertinggi di masa ini.

Aku ingin membuktikan kepada anda melalui sebuah contoh, KITAB SHOHIH AL-BUKHORIY, karya Muhammad bin Ismail Al-Jufi Al-Bukhoriy –rahimahullah-.

Jika anda membukanya tanpa latar belakang pengetahuan tentang kitab ini, maka anda pasti menilai bahwa kitab ini ditulis oleh seorang professor handal di zaman ini.

Terlihat dari susunannya yang amat rapi yang tersusun dalam kategori kitab, lalu di bawah kitab, terdapat rincian berupa bab-bab. Lalu bab-bab itu berisi istinbath Penulis.

Dari sisi periwayatnnya, riwayat-riwayat Shohih Al-Bukhoriy memiliki syarat yang amat ketat, dimana syarat beliau menjadikan kitab itu menjadi yang terbaik dan ter-shohih setelah Kitabullah. Belum lagi, dalam mengulang-ulang riwayat yang sama dalam berbagai bab dengan perawi hadits yang berbeda, menjadikan kitab itu sebagai salah satu referensi dalam pengunpulan jalur-jalur periwayatan bagi suatu hadits.

Apa yang ungkapkan dari kejaiban literature para ulama –sebagai contoh SHOHIH AL BUKHARIY- dengan segala keterbatasan alat-alat pendukung mereka, yang hanya berbekal pena, kertas yang amat sederhana, dan sebuah pelita di malam hari, bahkan terkadang menggunakan cahaya bulan; semua ini akan membuat kita tercengang dan bertanya di dalam hati, “Apa yang menyebabkan lahirnya karya tulis yang luar biasa seperti itu?!

Tentunya, karena berkat KESABARAN & KEIKHLASAN para ulama selaku pencari ilmu di masa itu.
Hal ini tentunya sama persis dengan para pencari dunia, dari mana mereka dapatkan harta benda yang melimpah ruah. Tentunya, dari usaha yang penuh kesabaran.

Walaupun tentunya keutamaan ilmu agama tidak dapat kita bandingkan dengan dunia! Sebab, ilmu agama adalah jauh lebih berharga disbanding dunia!

Tapi tahukah anda bagaimana kisah derita para ulama terdahulu dari para nabi, kalangan sahabat, para tabi’in, dan ulama-ulama yang mengikuti langkah mereka selanjutnya?

Demi membantu anda dalam menggambarkan kisah pilu, dan derita berat mereka dalam mencari ilmu agama, maka mari kita simak sebuah ceramah yang berjudul : “Kisah Derita Para Penuntut Ilmu”, yang bisa anda download dan dengar disini : https://goo.gl/wXzO5a


https://goo.gl/ap4cPW 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar