Senin, 01 Mei 2017

Mengusut Sejarah Toga dan Hukum Memakainya


Mengusut Sejarah Toga
dan Hukum Memakainya

oleh : 
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc. 
-hafizhahullah-

Siapa yang tak kenal toga? Semua orang pasti mengenal dan pernah melihat toga. Toga adalah baju panjang (jubah) hitam, lengannya lebar sebagai pakaian jabatan bagi guru besar, hakim, sarjana, dan sebagainya, yang dipakai pada saat tertentu. [Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia]

Pakaian yang satu ini berasal dari bangsa Romawi kuno dan terambil dari kata latin tego (pakaian penutup). Pakaian toga semula dipakai oleh para pembesar bangsa Romawi, lalu berkembang menjadi pakaian kehormatan yang bukan saja dipakai oleh mereka, bahkan rakyat pun ikut memakainya sebagai pakaian kehormatan saat menghadiri acara-acara tertentu.

Toga semula berupa sehelai kain wol yang seukuran kira-kira 6 meter (20 kaki) yang dililitkan di sekeliling badan dan umumnya digunakan setelah mengenakan cawak dan tunik (baju dalam) yang kerap terbuat dari linen. [Lihat Dictionary of Greek and Roman  (1980), Ed. William Smith, LDD; William Wayte; G.E. Marindin. London: John Murray]

Toga diyakini telah ada sejak zaman Kaisar Romawi yang kedua, Numa Pompilius (753-673 SM) yang menjadi pengganti bagi Kaisar Romulus. Numa adalah murid dari Pythagoras. Di saat itu toga telah menjadi pakaian para raja dan masyarakat Romawi sebagai pakaian harian.


Seiring berlalunya waktu, gaya berbusana pun berganti. Bangsa Romawi mengadopsi baju yang dikenal tunica.

Pakaian inilah yang menggeser toga sebagai pakaian keseharian saat melakukan pekerjaan dan tugas yang membutuhkan kegesitan.

Dahulu toga merupakan pakaian masyarakat Romawi pada umumnya, namun saat itu berubah menjadi pakaian seremonial dan kehormatan di kalangan masyarakat Romawi, khususnya di kalangan para pembesar dan pejabat mereka untuk menunjukkan jenjang kekuasaan.

Toga terus berkembang sehingga lahirlah berbagai macam nama dan bentuknya, misalnya ada Toga Virilis, Toga Candida, Toga Praetexta, Toga Picta dan Toga Trabea dan lainnya. Toga sering dipakai dalam acara-acara kehormatan dan hari raya bangsa Romawi.

Di Indonesia, toga berupa jubah dikenakan oleh para cassock (imam Katolik), para geneva gown (pendeta Protestan), para akademisi saat wisuda, dan para hakim dalam persidangan.

Usai menelisik dan mengusut beberapa untaian sejarah toga, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa toga adalah  pakaian yang berasal dari peradaban Barat –dalam hal ini Romawi-, lalu menjadi tradisi para pemuka agama kaum Nashrani (Kristen) dan sarjana barat (baca: Kristen).

Penting diingat juga bahwa dalam sejarah, para sarjana barat berasal dari kalangan gereja. Sebab telah menjadi tradisi mereka, yang memiliki akses pada ilmu pengetahuan adalah kalangan agamawan (gerejawan).

Jika dicermati, sampai sekarang kalangan gereja masih mempertahankan pakaian toga sebagai pakaian bagi para pemimpin-pemimpin agama mereka.

Satu hal yang amat tragis, pakaian ini diadopsi oleh para sarjana muslim yang mengekor dan menyerupai sarjana barat, yang notabene Kristen!!

Lebih parah dari semua itu, kini pakaian toga dipakai oleh para santri yang telah menamatkan bacaan Al-Qur'an!!!

Sungguh tragis, para ustadz dan pengasuh Taman Pendidikan Al-Qur'an mendidik anak-anak Islam agar menjadi pejuang Islam, namun di sisi lain diajari untuk meniru pakaian para pendeta dan pastor.

Bukankah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah melarang kita untuk mengikuti Ahlul Kitab dalam perkara-perkara yang sudah menjadi ciri khas mereka dalam beragama?!!

Ingat, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودَُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ؟!!
"Betul-betul kalian akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sedepa demi sedepa sampai walaupun mereka memasuki lubang dhobb (sejenis biawak), maka kalian akan mengikuti mereka". Kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, (maksudnya) mereka adalah kaum Yahudi dan Nashrani?!!" Beliau bersabda, "Siapa lagi kalau bukan mereka!" [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-I'tishom (7320) dan Muslim dalam Al-Ilm (2669)]

Hadits ini merupakan perumpamaan dan gambaran bagi kita bahwa kaum muslimin akan terperosok jauh ke dalam banyak penyimpangan.

Salah satunya, kaum muslimin membeo dan meniru kaum kafir dalam kebiasaan dan perbuatan yang menjadi menjadi syi'ar-syi'ar kekafiran dan kefasikan mereka.

Sampai pada suatu kondisi terburuk, kaum muslimin mengikuti mereka, walaupun harus melakukan sesuatu yang susah dan tidak masuk akal, mereka tetap mengikuti dan meniru kaum kafir!!

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata,
"والذي يظهر أن التخصيص إنما وقع لجحر الضب لشدة ضيقه ورداءته، ومع ذلك فإنهم لاقتفائهم آثارهم واتباعهم طرائقهم لو دخلوا في مثل هذا الضيق الرديء لتبعوهم." اهـ من فتح الباري- تعليق ابن باز - (6 / 498)
"Yang tampak (dari hadits ini) bahwa pengkhususan hanyalah terjadi pada lubang dhobb. Karena sempit dan buruknya lubang dhobb[1]. Walaupun demikian, mereka (kaum muslimin) demi mengikuti jejak-jejak dan jalan hidup kaum kafir, maka andaikan pun kaum kafir masuk ke dalam lubang yang sempit lagi buruk ini, maka kaum muslimin pasti mengikuti mereka". [Lihat Fathul Bari (6/498)]

Toga yang sudah menjadi pakaian dan simbol bagi orang-orang kafir tak boleh kita tiru. Apalagi jika pakaian itu memiliki makna sakral di sisi mereka atau menjadi syi'ar-syi'ar bagi agama dan peribadatan mereka.

Jika kita hadir dalam acara wisuda, maka kita pasti teringat dengan para pendeta dalam gereja. Namun anehnya, kaum muslimin menganggap berpakaian ala pendeta dan pastor sebagai perkara yang biasa-biasa saja.

Padahal agama telah memerintahkan kita untuk memusuhi dan membenci semua kekafiran dan syi'ar mereka. Sebab Allah membenci kekafiran dan syi'ar-syi'ar yang mengingatkan kita tentang kekafiran.

Di dalam sebuah ayat, Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ  [الزمر : 7]
"Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu". (QS. Az-Zumar : 7)

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Al-Allamah Ibnu Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata,
"{ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ } لكمال إحسانه بهم، [ ص 720 ] وعلمه أن الكفر يشقيهم شقاوة لا يسعدون بعدها، ولأنه خلقهم لعبادته، فهي الغاية التي خلق لها الخلق، فلا يرضى أن يدعوا ما خلقهم لأجله." اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص / 719)
"Allah tak menyukai kekafiran karena kesempurnaan baiknya Allah dan pengetahuannya bahwa kekafiran akan mencelakakan mereka dengan suatu kecelakaan yang mereka tak akan berbahagia setelahnya dan karena Dia menciptakan mereka untuk beribadah kepadanya. Ibadah itulah tujuan penciptaan makhluk. Lantaran itu, Allah tidak meridhoi kalau mereka meninggalkan sesuatu (ibadah) yang mereka diciptakan karenanya". [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 719-720), karya As-Sa'diy, cet. Mu'assasah Ar-Risalah, 1420]

Memakai toga mengandung penyerupaan diri dengan orang-orang kafir.

Sedang Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melarang kita dari menyerupakan diri dengan mereka,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut" (HR. Abu Dawud (4031). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (4347)]

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
"وهذا الحديث أقل أحواله أنه يقتضي تحريم التشبه بهم وإن كان ظاهره يقتضي كفر المتشبه بهم." اهـ من اقتضاء الصراط - (ص / 83)
"Hadits ini serendah-rendahnya mengharuskan pengharaman tasyabbuh (menyerupai) mereka (yakni, orang-orang kafir). Walaupun lahiriahnya hadits itu mengharuskan kafirnya orang yang menyerupai mereka."[Lihat Al-Iqtidho' (hlm. 83)]

Syaikh Bakr Abu Zaid -rahimahullah- berkata,
"والمناقش يأتي وقد ارتدى -الجبة أو العباءة السوداء- وهذا تقليد كنسي في مناقشة الرسائل -يجب على أهل العلم والإيمان مخالفتهم فيه-." اهـ من التعالم (ص/ 89)
"Dosen penguji datang sambil memakai jubah alias toga hitam. Ini adalah sikap taklid kepada kaum gerejawan dalam menguji tesis. Wajib bagi orang-orang berilmu dan beriman untuk menyelisihi mereka dalam hal itu". [Lihat At-Ta'alum (hal. 89)]

Usai membawakan sejumlah dalil haramnya menyerupai orang kafir, para ulama Timur Tengah yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Iftaa' mengeluarkan fatwa bersama,
وبناء على ذلك فلا يجوز لبس ما يسمى بـ (الروب) عند التخرج من مدرسة أو معهد أو كلية ، لأنه من ألبسة النصارى ، وعلى المسلم أن يعتز بدينه واتباعه لنبيه محمد صلى الله عليه وسلم ، ولا يلتفت إلى تقليد من غضب الله عليهم وأضلهم من اليهود والنصارى وغيرهم [انظر: فتاوى اللجنة الدائمة (24 / 27)]
"Dengan dasar itu, tak boleh memakai pakaian yang disebut dengan "toga" ketika lulus dari sebuah sekolah atau pesantren ataukah perkuliahan. Karena, pakaian itu termasuk pakaian kaum Nashrani (Kristen). Wajib bagi seorang muslim untuk berbangga dengan agamanya dan keteladanannya kepada Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- dan tak usah punya perhatian untuk taklid (meniru) orang-orang yang Allah murkai dan sesatkan dari kalangan bangsa Yahudi dan Nashrani serta yang lainnya". [Lihat Al-Fataawa Al-Lajnah Ad-Da'imah (24/27), tahqiq Ahmad Ad-Duwaisy]



DUKUNG KAMI :

Dalam membantu pembangunan ruang belajar Pesantren Al-Ihsan Gowa, yang dibina oleh Ust. Ibnu Yunus, Ust. Nashrul Haqq, Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, dkk.

« إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ »
"Jika manusia meninggal, maka terputuslah amal-amalnya, kecuali dari tiga jalan : sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak sholih yang mendoakan kebaikan baginya".
[HR. Muslim (no. 1631)]

# Bagi anda yang ingin mencari sedekah jariyah dan amal jariyah, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

BRI. Unit Borong Loe
(no. rekening : 5082-0101-7462-539)
atas nama :
SEKOLAH MA'HAD AL-IHSAN


Kontak Person :
0822-1441-0000 (Saudara Nurhadi Hasan)
0852-4154-8039 (Saudara Bahriadi, SE.)
0821-8831-3323 (Muhammad Sabir)

Jazakumullohu khoiron (semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan) atas sumbangsih dan doanya.






[1] Sejenis biawak, tapi bukan biawak. Dhobb halal dimakan, sedang biawak haram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar