Kamis, 13 April 2017

Seonggok Kekeliruan dalam Sujud Sahwi


Seonggok Kekeliruan dalam Sujud Sahwi

oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-

Sujud sahwi adalah sujud yang kita lakukan saat lupa dalam sholat. Kelupaan seperti ini sering kali menyebabkan keraguan tentang jumlah rakaat, kewajiban-kewajiban sholat atau bahkan mungkin rukun-rukun sholat.

Seringkali kita menyaksikan ada orang sholat yang khusyuk di awalnya, lalu setan membuat hatinya sibuk berpikir dan menerawang kesana-kemari, sampai terkadang kita melihatnya sholat Ashar dengan jumlah lima rakaat.

Sebagian orang salah dalam menyikapinya. Diantara mereka, ada yang langsung pergi, dan tidak melakukan sujud sahwi. Lebih para lagi, bila ia mengulangi sholatnya dan menganggap sholat sebelumnya adalah tidak sah!

Selain itu, ada sebagian orang melakukan beberapa perkara yang tak ada sangkut pautnya dengan sujud sahwi. Dalam artian, ia melakukan hal-hal yang tak ada sunnahnya (contohnya) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya -radhiyallahu anhum-.

Semua ini tentunya mendorong kami untuk sedikit membahas beberapa bentuk kesalahan saat melakukan sujud sahwi.

Diantara bentuk kesalahan-kesalahan itu:


ÿ  Membaca Dzikir yang tidak Ada Contohnya

Diantara kekeliruan kaum awam dalam melakukan sujud sahwi, sebagian diantara mereka ada yang membaca beberapa dzikir yang menurutnya dibaca saat bersujud untuk sujud sahwi, seperti:
سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَسْهُوْ وَلاَ يَنَامُ
Artinya, "Maha Suci (Allah) Yang tak pernah lupa dan tidak pula tidur".

Dzikir ini tak memiliki landasan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Dia hanyalah buatan orang-orang jahil yang mereka ada-adakan menurut hawa nafsunya.

Syaikh Muhammad bin Ahmad Asy-Syuqoiriy -rahimahullah- berkata,
"ولم يحفظ عنه ( [ صلى الله عليه وسلم ] ) ذكر خاص لسجود السهو ، بل أذكاره كسائر___ أذكار سجود الصلوات . وأما ما يقال من أنه يقول فيه : سبحان من  لا يسهو ولا ينام ، فلم يفعله النبي ( [ صلى الله عليه وسلم ] ) ولا أصحابه ، ولم يدل عليه دليل  من السنة البتة ، وإنما هو منام رآه بعض كبار مخرفي الصوفية فلا تلتفتوا  إليه ، وخذوا دينكم من كتب السنة الصحيحة وما عداه فردوه إلى قائله ،  ثم إثبات هذا في المؤلفات . وجعله ديناً وشرعاً ضلال كبير وفساد عريض." اهـ من السنن والمبتدعات - (1 / 74_75)
"Tak ada terhafal dari beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- suatu dzikir khusus bagi sujud sahwi, bahkan dzikir-dzikirnya seperti dzikir-dzikir sujud pada umumnya. Adapun dzikir yang konon kabarnya dibaca dalam sujud sahwi berikut:
سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَسْهُوْ وَلاَ يَنَامُ
Dzikir ini tak pernah dilakukan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya serta tidak ditunjukkan oleh dalil dari Sunnah sama sekali. Dzikir itu hanyalah berasal dari mimpi yang dilihat oleh sebagian pembesar orang-orang yang tak beres dari kalangan sufi. Karenanya, janganlah menoleh kepadanya dan ambillah agama kalian dari kitab-kitab Sunnah yang shohih. Ada pun selainnya, maka kembalikanlah kepada pengucapnya. Kemudian menetapkan dzikir ini dalam tulisan-tulisan dan menjadikannya sebagai agama dan syariat merupakan kesesatan yang besar dan kerusakan yang parah". [Lihat As-Sunan wal Mubtada'at Al-Muta'alliqoh bi Al-Adzkar wa Ash-Sholawat (hal. 74-75) karya Asy-Syuqoiriy, dengan tahqiq Muhammad Kholil Harros, cet. Dar Al-Fikr]

Dzikir ini merupakan dzikir yang tak ada tuntunannya dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Lantaran itu, Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid -rahimahullah- memasukkannya ke dalam golongan kalimat-kalimat yang terlarang dibaca saat sujud sahwi.

Sebab, ibadah harus dibangun di atas dalil, bukan berdasarkan rekaan dan mimpi atau perasaan.

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid -rahimahullah- berkata,
"لا يصح تقييد هذا التسبيح في سجود السهو." اهـ من معجم المناهي اللفظية - (1 / 263)
"Tidak benar mengkhususkan tasbih ini dalam sujud sahwi". [Lihat Mu'jam Al-Manahi Al-Lafzhiyyah (1/263)]

ÿ  Salah Sangka tentang Sebab Terjadinya Kelupaan Imam

Kesalahan lain dalam sujud sahwi, sebagian orang menyangka sebab lupanya imam dalam sholat atau kacaunya hafalan imam, karena sebagian makmum tidak beres dalam bersuci dan wudhu'-nya.

Mereka dalam keyakinan ini, bersandar kepada sebuah hadits dho'if  'lemah' di bawah ini:

Dari Syabib bin Rouh dari seorang sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sholat Shubuh sambil membaca Surah Ar-Ruum, lalu bacaan beliau kacau. Tatkala usai sholat, maka beliau bersabda,
مَا بَالُ أَقْوَامٍ يُصَلُّونَ مَعَنَا لَا يُحْسِنُونَ الطُّهُورَ فَإِنَّمَا يَلْبِسُ عَلَيْنَا الْقُرْآنَ أُولَئِكَ
"Kenapa ada beberapa orang yang sholat bersama kami, sedang ia tidak memperbaiki wudhu'-nya? Hanyalah yang mengacaukan bacaan Al-Qur'an kami adalah mereka". [HR. An-Nasa'iy dalam Shohih-nya (no. 947), Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (no. 1019) dan Abu Nu'aim dalam Ma'rifah Ash-Shohabah (no.7227)]

Di dalam hadits terdapat rawi yang bernama Syabib bin Nu'aim Abu Rouh Asy-Syamiy.

Ibnul Qoththon berkata, "Tak dikenal 'adalah-nya (keistiqomahannya)".

Disana juga terdapat illah (penyakit) lain bagi hadits ini. [Lihat penjelasannya dalam Takhrij Al-Misykah (no. 295) dan Tamam Al-Minnah (hal. 180) karya Syaikh Al-Albaniy]

Selain itu, redaksi hadits ini juga menyelisihi firman Allah -Azza wa Jalla-,
وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا [فصلت : 46]
"Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri". (QS. Fushshilat : 46)

ÿ  Hukum Sujud Sahwi

Ketika imam meninggalkan sebuah kewajiban atau rukun sholat, maka wajib baginya sujud sahwi.

Demikian pula bila ia mengurangi dan menambahi bilangan rakaat atau ragu dalam sholatnya tentang bilangan rakaatnya, maka ia juga wajib melakukan sujud sahwi.

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa sujud sahwi hanya mustahab, tidak wajib. Ini adalah pendapat yang lemah!!

Pendapat yang kuat bahwa ia wajib, bukan mustahab!!! Sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah memerintahkannya dan melaziminya setiap kali ada sesuatu yang mengharuskan sujud sahwi.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي جَاءَ الشَّيْطَانُ فَلَبَسَ عَلَيْهِ حَتَّى لَا يَدْرِيَ كَمْ صَلَّى فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ
"Sesungguhnya seorang diantara kalian bila berdiri melaksanakan sholat, maka setan akan datang seraya mengacaukannya sampai ia tak mengetahui berapa rakaat yang ia lakukan. Jika seorang diantara kalian mendapati hal itu, maka hendaklah ia bersujud dua kali, sedang ia duduk". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 1232) dan Muslim dalam Shohih-nya (no. 389)]

Seusai membawakan lima hadits semisal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata,
"فَهَذِهِ خَمْسَةُ أَحَادِيثَ صَحِيحَةٍ فِيهَا كُلُّهَا يَأْمُرُ السَّاهِيَ بِسَجْدَتَيْ السَّهْوِ...
وَهَذَا يَقْتَضِي مُدَاوَمَتَهُ عَلَيْهِمَا وَتَوْكِيدَهُمَا وَأَنَّهُ لَمْ يَدَعْهُمَا فِي السَّهْوِ الْمُقْتَضِي لَهَا قَطُّ وَهَذِهِ دَلَائِلُ بَيِّنَةٌ وَاضِحَةٌ عَلَى وُجُوبِهِمَا وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَأَحْمَد وَأَبِي حَنِيفَةَ وَلَيْسَ مَعَ مَنْ لَمْ يُوجِبْهُمَا حُجَّةٌ تُقَارِبُ ذَلِكَ." اهـ من مجموع الفتاوى ( ط: دار الوفاء - تحقيق أنور الباز ) - (23 / 28)
"Inilah lima buah hadits shohih. Di dalam semua hadits-hadits tersebut, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan orang yang lupa untuk melakukan sujud sahwi…Ini mengharuskan bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melaziminya dan menekankannya. Beliau juga tak meninggalkan sujud sahwi saat lupa yang mengharuskan sujud tersebut. Inilah dalil-dalil yang gamblang lagi jelas tentang wajibnya sujud sahwi. Itu adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu madzhabnya Malik, Ahmad, dan Abu Hanifah. Tidak ada pada orang yang tak mewajibkannya suatu hujjah yang menghampiri hal itu". [Lihat Majmu' Al-Fataawa (23/26)]

Inilah beberapa kesalahan yang sering kita saksikan atau dengarkan terjadi di sekitar kita seputar perkara sujud sahwi.

Kesalahan-kesalahan seperti ini terkadang dianggap remeh oleh sebagian orang, padahal masalahnya besar di sisi Allah, sebab ia berkaitan dengan sholat kita yang merupakan ibadah terbesar di hadapan Allah yang harus di dasari dengan ilmu. Ilmu yang mewariskan mutaba'ah (keteladanan) kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam menunaikan ibadah kepada Allah. Hindarilah semua persangkaan, perasaan, taklid kepada manusia dalam beribadah, utamanya sholat.

Jangan seperti sebagian orang-orang jahil yang hanya beribadah, tanpa didasari oleh ilmu yang menjadi cahaya penerang baginya dalam menapaki jalan-jalan kebaikan.


Ia hanya membebek kepada sesamanya yang jahil. Akhirnya, bukan pahala yang ia dapatkan, bahkan capek, penyesalan dan dosa akibat keteledorannya dalam memperbaiki ibadahnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar