Keharusan Menegakkan Amar Ma'ruf & Nahi Munkar, serta Ancaman Keras bagi Kaum yang Meninggalkannya
Keharusan Menegakkan Amar Ma'ruf & Nahi
Munkar, serta Ancaman Keras bagi Kaum yang Meninggalkannya
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
Dalam kehidupan dunia, kita tidak
hidup sendiri. Kita punya teman, saudara dan orang lain untuk saling melihat
dan memperhatikan.
Dengan adanya mereka, membuat kita
mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita. Bersama mereka, kita bisa belajar saling
memahami dan mengoreksi supaya hidup kita bisa lebih indah dan bahagia.
Perhatikanlah bintang-bintang di
langit!! Mereka saling memberi cahaya. Walaupun langit gelap dipandang mata,
asalkan mereka selalu bersama, selalu indah di hati.
Demikianlah keberadaan kita hidup
bersama, untuk saling nasehat dan menasehati agar amalan kita menjadi lebih
baik dan lebih sempurna.
Kebaikannya bukan hanya untuk diri
kita sendiri, tapi juga untuk orang lain. Sifat inilah menjadi ciri bagi
orang-orang yang beruntung.
Allah -Subhana Wa
Ta'ala- berfirman,
وَالْعَصْرِ
(1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi
masa Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr : 1-3)
Saling memberi nasehat merupakan
cerminan dari sempurnanya iman seseorang, karena hal itu sebagai tanda cinta
seorang muslim kepada muslim yang lainnya.
Rasulullah -Sallallahu 'Alaihi Wa
Sallam- pernah bersabda,
لَا
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidak beriman (dengan sempurna) salah
seorang dari kalian, hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai
dirinya sendiri"
[HR. Al-Bukhoriy (no. 13) dan Muslim (no. 45)]
Diantara kecintaan seseorang kepada
saudaranya, ia membenci keburukan dan maksiat yang ia lihat pada saudaranya
sehingga hal ini menuntut adanya nasihat agar saudaranya seperti dirinya yang
berada di atas ketaatan.
Al-Imam Muhammad bin Yusuf Al-Kirmaniy -rahimahullah- berkata,
"ومن
الإيمان أيضا أن يبغض لأخيه ما يبغض لنفسه من الشر، ولم يذكره لأن حب الشيء مستلزم
لبغض نقيضه." اهـ من فتح الباري- تعليق ابن باز - (1 / 58)
"Diantara keimanan itu juga,
seseorang membenci bagi saudaranya sesuatu yang ia benci untuk dirinya berupa
keburukan. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tidak menyebutkan hal itu,
karena kecintaan kepada sesuatu, mengharuskan kebencian kepada lawannya." [Lihat Fathul Bari (1/58) oleh Ibnu Hajar]
Karenanya, amar ma’ruf dan nahi munkar harus senantiasa tegak
dalam kehidupan ini. Ia merupakan tanda bagi keberuntungan umat ini.
Allah -Azza Wa
Jalla- berfirman,
وَلْتَكُنْ
مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) [آل عمران : 104]
“Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang
yang beruntung”. (QS.
Al-Imron : 104)
Allah -Azza Wa
Jalla- menyematkan gelar “umat yang terbaik” kepada umat
islam, karena menegakkan amar ma’ruf, nahi mungkar.
Allah –Tabaaraka Wa
Ta’ala- berfirman,
كُنْتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا
لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ [آل عمران : 110]
“Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya
ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada
yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.
Al-Imron : 110)
Allah menyebutkan tiga sifat terpuji
pada diri ummat yang terbaik : (1) memerintahkan yang ma'ruf, (2) melarang dari
kemungkaran dan (3) beriman kepada Allah.
Sebaliknya Allah akan mencela dan
melaknat kaum yang meninggalkannya, sedang mereka mampu menunaikannya.
Al-Hafizh Abul Fidaa' Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,
فمن
اتصف من هذه الأمة بهذه الصفات دخل معهم في هذا الثناء عليهم والمدح لهم...ومن لم يتصف
بذلك أشبه أهل الكتاب الذين ذمهم الله." اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة -
(2 / 103)
"Barangsiapa yang tersifati
dengan sifat-sifat seperti ini dari kalangan umat ini, maka ia akan masuk
bersama mereka (yakni, bersama sebaik-baik umat) dalam hal sanjungan dan pujian
bagi mereka…Barangsiapa yang tidak tersifati dengan hal itu, maka ia telah
menyerupai Ahlul Kitab yang telah Allah cela". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir
(2/103), dengan tahqiq Sami Salamah, cet. Dar Thoybah, 1420 H]
Dalil-dalil yang menunjukkan tentang
pentingnya amalan besar ini sangat banyak di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Semua dalil-dalil itu menerangkan
kelirunya orang yang menyatakan “Jangan ikut campur dalam masalah saya.
Saya mau minum bir, mau berzina, mau
korupsi, apa urusanmu !!!
Jangan pusingi saya!! Sebab bukan
anda yang ditanyai kelak. Allah Maha Pengampun…nanti saya bertobat.
Urusi saja urusanmu sendiri !!! Banyak
orang yang stress zaman sekarang karena terlalu memikirkan urusan orang lain !”
Pembaca yang budiman, ungkapan
seperti ini adalah virus yang menggerogoti dan melumpuhkan pilar amar ma’ruf-nahi mungkar.
Dengan pernyataan seperti ini, ia
telah menutup pintu nasehat untuk dirinya. Tidaklah muncul ungkapan ini, kecuali dari orang yang
hatinya berpenyakit dan tidak mengetahui hakekat agamanya.
Bukankah Rasulullah -Shallallahu
alaihi wa sallam- telah bersabda,
الدِّينُ
النَّصِيحَةُ
" Agama
adalah nasihat."
[HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (no. 55)]
“Nasihat adalah kata yang memiliki makna yang
luas, yang diartikan sebagai keinginan untuk berbuat baik kepada orang yang di
nasehati. Nasihat ini termasuk hak-hak yang harus ditunaikan antara kaum muslimin. Sesungguhnya Rasululullah
-Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam- telah memba’iat sebagian sahabatnya untuk
menasehati setiap muslim.” [Lihat Syarhu Riyadhus Shoolihiin
(1/269)].
Seharusnya orang yang berucap seperti itu merasa bersyukur dan
berterimakasih kepada saudaranya yang telah mengingatkan ia ketika lalai, dan menegurnya
ketika salah dan menyadarkannya ketika terjatuh dalam kezholiman.
Bukankah Nabi -Sallallahu 'Alaihi Wa
Sallam- telah bersabda,
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ
أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ
نَصْرُهُ
"Tolonglah
saudaramu, baik ia zhalim atau dizhalimi." Ada seorang laki-laki bertanya, "Ya
Rasulullah, saya maklum jika ia dizhalimi, namun bagaimana saya menolongnya padahal ia zhalim?" Beliau menjawab,
"Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezhaliman, itulah cara
menolongnya." [HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Ikroh (6952)
dari Anas dan Muslim (no. 2584) dari Jabir]
Pembaca yang budiman, seorang muslim
harus memperhatikan saudaranya. Ia bagaikan satu tubuh yang saling menjaga.
Sebab setan senantiasa mengintai muslim yang lalai dan lengah. Ibarat serigala yang
mengintai domba-domba yang kesepian.
Karenanya, nasehat-menasehati dan
amar ma’ruf-nahi mungkar, harus tetap terjaga diantara kaum muslimin.
Janganlah merasa marah, malu dan gengsi ketika
mendapat nasehat dan teguran dari saudaranya.
Janganlah indahnya nasehat dianggap
sebagai celaan yang menghunjam kalbu.
Kalau memang kesalahan itu ada pada diri kita, terimalah dengan lapang dada dan
berusaha untuk memperbaiki diri dengan jujur. Jika tidak, sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.
Rasulullah -Sallallahu 'Alaihi Wa
Sallam- mempermisalkan antara satu muslim dengan yang lainnya seperti
sebuah cermin.
Yang dengannya, mereka bisa saling
memperhatikan tentang keadaan mereka, saling menutupi kekurangan dan
memperbaiki kesalahan.
Rasulullah -Sallallahu 'Alaihi Wa
Sallam- bersabda,
الْمُؤْمِنُ
مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ
وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ
"Seorang
mukmin itu cermin bagi mukmin lainnya, dan seorang mukmin itu saudara bagi
mukmin lainnya; ia membantu kehidupannya serta menjaganya (membelanya) dari
belakang." [HR.
Abu Dawud dalam Sunan-nya (4920). Syaikh Al-Albani meng-hasan-kannya
dalam Ash-Shohihah (926)]
Ulama Negeri India , Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy -rahimahullah- berkata,
"أي
آله لإراءة محاسن أخيه ومعائبه لكن بينه__وبينه فإن النصيحة في الملأ فضيحة وأيضا هو
يرى من أخيه ما لا يراه من نفسه كما يرسم في المرآة ما هو مختف عن صاحبه فيراه فيها
أي إنما يعلم الشخص عيب نفسه بإعلام أخيه كما يعلم خلل وجهه بالنظر في المرآة."
اهـ من عون المعبود - (13 / 177_178)
"Maksudnya, ia adalah alat
untuk memperlihatkan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan saudaranya. Tapi
(ia lakukan) antara dirinya dan saudaranya, karena nasihat di depan umum adalah
aib. Seorang mukmin juga memperlihatkan dari saudaranya sesuatu yang tak ia
lihat dari dirinya sebagaimana halnya akan membekas pada cermin sesuatu yang
tersembunyi dari pemiliknya, lalu ia (saudaranya) yang melihatnya. Maksudnya,
hanyalah seseorang mengetahui aib dirinya dengan adanya pemberitahuan dari
saudaranya sebagaimana ia mengetahui kerusakan wajahnya dengan melihat ke
cermin". [Lihat
Aunul Ma'bud Syarh Sunan Abi Dawud (10/447)]
Hanya saja di zaman kita ini
sebagian orang susah dinasihati. Jika dinasihati secara rahasia, maka ia
memandang nasihat itu sebagai celaan dan koreksi yang menjatuhkan dan mencoreng
dirinya.
Akhirnya, ia pun menyebarkan
kedustaan di tengah manusia bahwa si fulan membenci saya, mencari-cari
kesalahanku, meng-ghibahiku, menjatuhkan diriku, gila urusan dan sederet
tuduhan-tuduhan dusta serta prasangka buruk yang menghinakan dirinya sendiri.
Jika ia dinasihati, maka ia selalu
mencari legitimasi (pembenaran) bagi kesalahannya, sehingga ia dan orang lain
memandangnya baik, dan sebaliknya orang yang menasihatinya adalah orang-orang
buruk dan suka ghibah. Subhanallah, nasihat dianggap ghibah!!
Pembaca yang budiman, jika amar
ma’ruf dan nahi munkar tidak ditegakkan, maka akan terjadi kerusakan
yang besar dan banyak. Pelakunya akan mendapat celaan yang keras dari Allah.
Allah -Subhana Wa
Ta'ala- berfirman,
لَوْلَا
يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ
السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
[المائدة : 63]
“Mengapa
orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka
mengucapkan Perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya Amat buruk
apa yang telah mereka kerjakan itu.”
(QS. Al-Maidah :63)
Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata,
"ودلت
الآية على أن تارك النهي عن المنكر كمرتكب المنكر، فالآية توبيخ للعلماء في ترك الامر
بالمعروف والنهي عن المنكر." اهـ من الجامع لأحكام القرآن - (6 / 237)
"Ayat ini menegaskan bahwa
orang yang tidak mencegah kemungkaran sama seperti pelaku kemungkaran itu
sendiri. Ayat ini juga sekaligus sebagai celaan bagi para ulama yang tidak ber-amar
ma’ruf dan nahi munkar”
[Lihat Al-Jami’ Al-Ahkam Al-Qur’an (6/237), cet. Dar Ihyaa'
At-Turots Al-Arobiy, 1405 H]
Saking tercelanya, orang-orang yang
meninggalkan kewajiban amar ma'ruf-nahi munkar, akan mendapat laknat.
Allah -Azza wa Jalla-
berfirman,
لُعِنَ
الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ
مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ
عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) [المائدة : 78 ، 79]
“Telah dilaknati
orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang
demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka
satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat.
Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS. Al-Maidah : 78-79).
===============================================
|
DUKUNG KAMI :
Dalam
membantu pembangunan Masjid
IMAM SYAFI'I POLMAN SULBAR, milik Ahlus Sunnah Polman.
"Siapa
yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana
baginya di surga".[HR. Al-Bukhori & Muslim]
#
Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim
sebagian rezki anda melalui :
BRI.0259-01-035305-50-9
a/n. YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY
atau
:
Rek
BNI No; 0507-4673-45 atas nama Masjid
Imam Syafi'i Polman
Kontak Person :
0852-3091-8001
(Saudara Mu'in)
0813-5595-4435
(Saudara Abdullah Majid)
0813-4370-0400
(Saudara Arif)
Jazakumullohu
khoiron
atas sumbangsih dan doanya.
|

Komentar
Posting Komentar