Kamis, 06 April 2017

Keharusan Menegakkan Amar Ma'ruf & Nahi Munkar, serta Ancaman Keras bagi Kaum yang Meninggalkannya



Keharusan Menegakkan Amar Ma'ruf & Nahi Munkar, serta Ancaman Keras bagi Kaum yang Meninggalkannya

oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-

Dalam kehidupan dunia, kita tidak hidup sendiri. Kita punya teman, saudara dan orang lain untuk saling melihat dan memperhatikan.

Dengan adanya mereka, membuat kita mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita. Bersama mereka, kita bisa belajar saling memahami dan mengoreksi supaya hidup kita bisa lebih indah dan bahagia.

Perhatikanlah bintang-bintang di langit!! Mereka saling memberi cahaya. Walaupun langit gelap dipandang mata, asalkan mereka selalu bersama, selalu indah di hati.

Demikianlah keberadaan kita hidup bersama, untuk saling nasehat dan menasehati agar amalan kita menjadi lebih baik dan lebih sempurna.

Kebaikannya bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain. Sifat inilah menjadi ciri bagi orang-orang  yang beruntung.

Allah -Subhana Wa Ta'ala- berfirman,
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
 “Demi masa Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr : 1-3)

Saling memberi nasehat merupakan cerminan dari sempurnanya iman seseorang, karena hal itu sebagai tanda cinta seorang muslim kepada muslim yang lainnya.


Rasulullah -Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam-  pernah bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
"Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang dari kalian, hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri" [HR. Al-Bukhoriy (no. 13) dan Muslim (no. 45)]

Diantara kecintaan seseorang kepada saudaranya, ia membenci keburukan dan maksiat yang ia lihat pada saudaranya sehingga hal ini menuntut adanya nasihat agar saudaranya seperti dirinya yang berada di atas ketaatan.

Al-Imam Muhammad bin Yusuf Al-Kirmaniy -rahimahullah- berkata, 
"ومن الإيمان أيضا أن يبغض لأخيه ما يبغض لنفسه من الشر، ولم يذكره لأن حب الشيء مستلزم لبغض نقيضه." اهـ من فتح الباري- تعليق ابن باز - (1 / 58)
"Diantara keimanan itu juga, seseorang membenci bagi saudaranya sesuatu yang ia benci untuk dirinya berupa keburukan. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tidak menyebutkan hal itu, karena kecintaan kepada sesuatu, mengharuskan kebencian kepada lawannya." [Lihat Fathul Bari (1/58) oleh Ibnu Hajar]

Karenanya, amar ma’ruf  dan nahi munkar harus senantiasa tegak dalam kehidupan ini. Ia merupakan tanda bagi keberuntungan umat ini.

Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) [آل عمران : 104]
 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Imron : 104)

Allah -Azza Wa Jalla- menyematkan gelar “umat yang terbaik” kepada umat islam, karena menegakkan amar ma’ruf, nahi mungkar.

Allah –Tabaaraka Wa Ta’ala- berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ  [آل عمران : 110]
 Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Imron : 110)

Allah menyebutkan tiga sifat terpuji pada diri ummat yang terbaik : (1) memerintahkan yang ma'ruf, (2) melarang dari kemungkaran dan (3) beriman kepada Allah.

Sebaliknya Allah akan mencela dan melaknat kaum yang meninggalkannya, sedang mereka mampu menunaikannya.

Al-Hafizh Abul Fidaa' Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata,
فمن اتصف من هذه الأمة بهذه الصفات دخل معهم في هذا الثناء عليهم والمدح لهم...ومن لم يتصف بذلك أشبه أهل الكتاب الذين ذمهم الله." اهـ من تفسير ابن كثير / دار طيبة - (2 / 103)
"Barangsiapa yang tersifati dengan sifat-sifat seperti ini dari kalangan umat ini, maka ia akan masuk bersama mereka (yakni, bersama sebaik-baik umat) dalam hal sanjungan dan pujian bagi mereka…Barangsiapa yang tidak tersifati dengan hal itu, maka ia telah menyerupai Ahlul Kitab yang telah Allah cela". [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2/103), dengan tahqiq Sami Salamah, cet. Dar Thoybah, 1420 H]

Dalil-dalil yang menunjukkan tentang pentingnya amalan besar ini sangat banyak di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Semua dalil-dalil itu menerangkan kelirunya orang yang menyatakan “Jangan ikut campur dalam masalah saya. Saya mau minum bir, mau  berzina, mau korupsi, apa urusanmu !!!

Jangan pusingi saya!! Sebab bukan anda yang ditanyai kelak. Allah Maha Pengampun…nanti saya bertobat.

Urusi saja urusanmu sendiri !!! Banyak orang yang stress zaman sekarang karena terlalu memikirkan urusan orang lain !”

Pembaca yang budiman, ungkapan seperti ini adalah virus yang menggerogoti dan  melumpuhkan pilar amar ma’ruf-nahi mungkar.

Dengan pernyataan seperti ini, ia telah menutup pintu nasehat untuk dirinya. Tidaklah muncul ungkapan ini, kecuali dari orang yang hatinya berpenyakit dan tidak mengetahui hakekat agamanya.

Bukankah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah bersabda,
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
" Agama adalah nasihat." [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (no. 55)]

 “Nasihat adalah kata yang memiliki makna yang luas, yang diartikan sebagai keinginan untuk berbuat baik kepada orang yang di nasehati. Nasihat ini termasuk hak-hak yang harus ditunaikan antara kaum muslimin. Sesungguhnya Rasululullah -Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam- telah memba’iat sebagian sahabatnya untuk menasehati setiap muslim.” [Lihat Syarhu Riyadhus Shoolihiin (1/269)].  

Seharusnya orang yang berucap seperti itu merasa bersyukur dan berterimakasih kepada saudaranya yang telah mengingatkan ia ketika lalai, dan menegurnya ketika salah dan menyadarkannya ketika terjatuh dalam kezholiman.

Bukankah Nabi -Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam-  telah bersabda,
 انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ
"Tolonglah saudaramu, baik ia zhalim atau dizhalimi." Ada seorang laki-laki bertanya, "Ya Rasulullah, saya maklum jika ia dizhalimi, namun bagaimana saya menolongnya  padahal ia zhalim?" Beliau menjawab, "Engkau mencegahnya atau menahannya dari kezhaliman, itulah cara menolongnya." [HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Ikroh (6952) dari Anas dan Muslim (no. 2584) dari Jabir]

Pembaca yang budiman, seorang muslim harus memperhatikan saudaranya. Ia bagaikan satu tubuh yang saling menjaga. Sebab setan senantiasa mengintai muslim yang lalai dan lengah. Ibarat serigala yang mengintai domba-domba yang kesepian.

Karenanya, nasehat-menasehati dan amar ma’ruf-nahi mungkar, harus tetap terjaga diantara kaum muslimin.  Janganlah merasa marah, malu dan gengsi ketika mendapat nasehat dan teguran dari saudaranya.

Janganlah indahnya nasehat dianggap sebagai celaan yang menghunjam kalbu. Kalau memang kesalahan itu ada pada diri kita, terimalah dengan lapang dada dan berusaha untuk memperbaiki diri dengan jujur. Jika tidak, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.

Rasulullah -Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam- mempermisalkan antara satu muslim dengan yang lainnya seperti sebuah cermin.

Yang dengannya, mereka bisa saling memperhatikan tentang keadaan mereka, saling menutupi kekurangan dan memperbaiki kesalahan.

Rasulullah -Sallallahu 'Alaihi Wa Sallam- bersabda,
الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ
"Seorang mukmin itu cermin bagi mukmin lainnya, dan seorang mukmin itu saudara bagi mukmin lainnya; ia membantu kehidupannya serta menjaganya (membelanya) dari belakang." [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4920). Syaikh Al-Albani meng-hasan-kannya dalam Ash-Shohihah  (926)]

Ulama Negeri India, Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy -rahimahullah- berkata,
"أي آله لإراءة محاسن أخيه ومعائبه لكن بينه__وبينه فإن النصيحة في الملأ فضيحة وأيضا هو يرى من أخيه ما لا يراه من نفسه كما يرسم في المرآة ما هو مختف عن صاحبه فيراه فيها أي إنما يعلم الشخص عيب نفسه بإعلام أخيه كما يعلم خلل وجهه بالنظر في المرآة." اهـ من عون المعبود - (13 / 177_178)
"Maksudnya, ia adalah alat untuk memperlihatkan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan saudaranya. Tapi (ia lakukan) antara dirinya dan saudaranya, karena nasihat di depan umum adalah aib. Seorang mukmin juga memperlihatkan dari saudaranya sesuatu yang tak ia lihat dari dirinya sebagaimana halnya akan membekas pada cermin sesuatu yang tersembunyi dari pemiliknya, lalu ia (saudaranya) yang melihatnya. Maksudnya, hanyalah seseorang mengetahui aib dirinya dengan adanya pemberitahuan dari saudaranya sebagaimana ia mengetahui kerusakan wajahnya dengan melihat ke cermin". [Lihat Aunul Ma'bud Syarh Sunan Abi Dawud (10/447)]

Hanya saja di zaman kita ini sebagian orang susah dinasihati. Jika dinasihati secara rahasia, maka ia memandang nasihat itu sebagai celaan dan koreksi yang menjatuhkan dan mencoreng dirinya.

Akhirnya, ia pun menyebarkan kedustaan di tengah manusia bahwa si fulan membenci saya, mencari-cari kesalahanku, meng-ghibahiku, menjatuhkan diriku, gila urusan dan sederet tuduhan-tuduhan dusta serta prasangka buruk yang menghinakan dirinya sendiri.

Jika ia dinasihati, maka ia selalu mencari legitimasi (pembenaran) bagi kesalahannya, sehingga ia dan orang lain memandangnya baik, dan sebaliknya orang yang menasihatinya adalah orang-orang buruk dan suka ghibah. Subhanallah, nasihat dianggap ghibah!!

Pembaca yang budiman, jika amar ma’ruf dan nahi munkar tidak ditegakkan, maka akan terjadi kerusakan yang besar dan banyak. Pelakunya akan mendapat celaan yang keras dari Allah.

Allah -Subhana Wa Ta'ala- berfirman,
لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ  [المائدة : 63]
 “Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan Perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya Amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS. Al-Maidah :63)

Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata,
"ودلت الآية على أن تارك النهي عن المنكر كمرتكب المنكر، فالآية توبيخ للعلماء في ترك الامر بالمعروف والنهي عن المنكر." اهـ من الجامع لأحكام القرآن - (6 / 237)
"Ayat ini menegaskan bahwa orang yang tidak mencegah kemungkaran sama seperti pelaku kemungkaran itu sendiri. Ayat ini juga sekaligus sebagai celaan bagi para ulama yang tidak ber-amar ma’ruf dan nahi munkar” [Lihat Al-Jami’ Al-Ahkam Al-Qur’an (6/237), cet. Dar Ihyaa' At-Turots Al-Arobiy, 1405 H]

Saking tercelanya, orang-orang yang meninggalkan kewajiban amar ma'ruf-nahi munkar, akan mendapat laknat.  

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79) [المائدة : 78 ، 79]

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS. Al-Maidah : 78-79).


===============================================


DUKUNG KAMI :

Dalam membantu pembangunan Masjid IMAM SYAFI'I POLMAN SULBAR, milik Ahlus Sunnah Polman.

"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana baginya di surga".[HR. Al-Bukhori & Muslim]

# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

BRI.0259-01-035305-50-9
a/n. YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY

atau :

Rek BNI No;  0507-4673-45 atas nama Masjid Imam Syafi'i Polman

Kontak Person :
0852-3091-8001 (Saudara Mu'in)
0813-5595-4435 (Saudara Abdullah Majid)
0813-4370-0400 (Saudara Arif)

Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar