Surat Wasiat Sufyan bin Sa'id Ats-Tsauriy kepada Abbad bin Abbad Ar-Romliy
kepada Abbad bin Abbad Ar-Romliy
oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
-hafizhahullah-
Wasiat para salaf adalah wasiat yang amat berkesan dalam
sanubari, karena ia lahir dari renungan yang mendalam terhadap Al-Qur'an dan
Sunnah, lalu diterapkan pada realita dan kehidupan nyata manusia.
Sentuhan-sentuhan nasihat para salaf bagaikan sentuhan
sutra yang amat halus. Arahan dan nasihat mereka yang tulus menembus relung
hati setiap pencari kebaikan dan kebenaran.
Tergetar hati ini rasanya jika mereka menyampaikan
wejangan-wejangan yang mengobati yang sakit, menghibur yang lara, dan menguatkan jiwa yang lemah.
Salah
seorang diantara salaf yang bernama SUFYAN BIN SA'ID ATS-TSAURIY -rahimahullah-
pernah mengirim sebuah surat
wasiat kepada sahabatnya yang bernama Abbad bin Abbad Al-Khowwash Ar-Romliy
Al-Arsuqiy -rahimahullah-.
Isi surat itu amat menyentuh
hati dan merupakan nasihat yang dibutuhkan oleh setiap muslim dalam menjalani
kehidupan dunia ini.
Berikut
isi surat Sufyan
bin Sa'id Ats-Tsauriy kepada Abbad bin Abbad Ar-Romliy :
أمابعد:
فإنك في زمان كان أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم- يتعوّذون أن يدركوه ولهم من العلم ماليس لنا ولهم من القدم ماليس لنا فكيف بنا حين أدركناه على قلة علم ,وقلة صبر ,وقلة أعوان على الخير,
فإنك في زمان كان أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم- يتعوّذون أن يدركوه ولهم من العلم ماليس لنا ولهم من القدم ماليس لنا فكيف بنا حين أدركناه على قلة علم ,وقلة صبر ,وقلة أعوان على الخير,
وفساد من الناس , وكدر من الدنيا؟!
فعليك بالأمر الأوّل , والتّمسك به وعليك بالخمول , فإن هذا زمن الخمول وعليك بالعزلة ,وقلة مخالطة النّاس ,فإذا كان الناس إذا التقوا ينتفع بعضهم ببعض ,
فعليك بالأمر الأوّل , والتّمسك به وعليك بالخمول , فإن هذا زمن الخمول وعليك بالعزلة ,وقلة مخالطة النّاس ,فإذا كان الناس إذا التقوا ينتفع بعضهم ببعض ,
فأما اليوم فقد ذهب ذلك والنجاة في
تركهم فيما نرى
وإياك والأمراء أن تدنو منهم وتخالطهم في شئ من الأشياء واياك أن تُحدع فيقال لك :تشفع وتدرأ عن مظلوم أو ترد مظلمة فإن ذلك خديعة إبليس وإنما اتّخذها فجار القراء سلّما
وكان يقال : اتقوا فتنة العابد الجاهل والعالم الفاجر فإن فتنتهما فتنة لكل مفتون
وما لقيت من المسألة والفتيا فاغتنم ذلك ولا تنافسهم فيه
وإياك أن تكون كمن يحب أن يعمل بقوله أو ينشر قوله أو يسمع قوله فإذا ترك ذاك منه عُرف فيه،
وإياك وحب الرئاسة فإن الرجل تكون
الرئاسة أحب إليه من الذهب والفضة وهو باب غامض لا يبصره إلا العلماء السّماسرة،
فتفقد نفسك واعمل بنية واعلم أنه قد دنا
الناس أمر يشتهي الرّجل أن يموت، والسلام.
"Amma
ba'd, sesungguhnya engkau berada pada zaman yang dahulu para sahabat Nabi
-Shallallahu alaihi wa sallam- berlindung (kepada Allah) dari mendapatinya.
Padahal mereka memiliki ilmu yang tidak ada pada kita, dan mereka memiliki
prinsip (yang kuat) yang tidak ada kita.
Lalu bagaimanakah kita bila
menjumpai zaman itu dengan ilmu yang sedikit, kurangnya pendukung di atas
kebaikan, rusaknya manusia, dan kotornya dunia?!
Pegangilah urusan agama yang awal[1],
dan berpegang teguh dengannya. Lazimilah penyamaran (yakni, sikap tidak ingin
tenar), karena sekarang ini adalah zaman penyamaran.
Biasakan melakukan uzlah (menyingkir
dari keburukan dan pelakunya), dan mempersedikit pergaulan bersama manusia.
Sebab, dahulu manusia (yakni, para sahabat) bila berjumpa, maka sebagian mereka
akan mendapatkan manfaat dari (sahabat) yang lain.
Adapun hari ini, maka sungguh hal
itu telah hilang, sedang keselamatan adalah meninggalkan mereka (orang-orang
buruk tersebut), menurut pandangan kami.
Waspadalah kalian terhadap para
umaro' (para pemerintah), (jangan sampai) kalian mendekati mereka dan ikut
serta bersama dengan mereka dalam suatu perkara diantara perkara-perkara (yang
terlarang dalam agama).
Waspadalah engkau dari tipuan,
sehingga dikatakan kepadamu, "Kamukan bisa memberi syafaat, menghalau
(keburukan) dari orang yang terzholimi, atau mengembalikan barang yang diambil
secara zholim."
Sesungguhnya hal itu adalah tipu
daya Iblis. Hal itu hanyalah dijadikan oleh para qurro' (yakni, ulama suu'
'buruk') sebagai tangga (dalam meraih
dunia yang hina).
Dulu dikatakan, "Berlindunglah
dari fitnah (ujian yang timbul) dari orang jahil dan ulama fajir."
Karena ujian keduanya adalah ujian
bagi setiap maftun (orang yang akan tertimpa ujian dan musibah)
Apapun yang kamu jumpai berupa
pertanyaan dan (permintaan) fatwa, maka gunakan hal itu sebagai kesempatan
(dalam meraih pahala dengan menyebarkan ilmu), dan janganlah engkau menyaingi
mereka dalam hal itu.[2]
Waspadalah engkau menjadi laksana
orang yang senang jika pendapatnya diamalkan, atau ucapannya disebarkan dan
didengarkan, sehingga jika si itu meninggalkan pendapatnya, maka diketahui
(ketidaksenangan) pada dirinya.
Waspadalah engkau dari cinta
kepemimpinan. Karena, seseorang itu, kepemimpinan adalah perkara yang lebih ia
cintai dibandingkan emas dan perak[3].
Hal itu adalah perkara yang samar; tak ada yang melihatnya, melainkan para
ulama yang mumpuni.
Periksalah dirimu sendiri dan
beramallah dengan niat (yang tulus), dan ketahuilah bahwa sungguh manusia telah
dihampiri oleh suatu perkara yang seseorang menginginkan jika ia mati saja.
Wassalam."
[Atsar Riwayat Abu Nu'aim dalam Hilyah Al-Auliya'
(6/376-377)]
|
DUKUNG KAMI :
Dalam
membantu pembangunan Masjid
IMAM SYAFI'I POLMAN SULBAR, milik Ahlus Sunnah Polman.
"Siapa
yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan istana
baginya di surga".[HR. Al-Bukhori & Muslim]
#
Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim
sebagian rezki anda melalui :
BRI.0259-01-035305-50-9
a/n. YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY
atau
:
Rek
BNI No; 0507-4673-45 atas nama Masjid
Imam Syafi'i Polman
Kontak Person :
0852-3091-8001
(Saudara Mu'in)
0813-5595-4435
(Saudara Abdullah Majid)
0813-4370-0400
(Saudara Arif)
Jazakumullohu
khoiron
atas sumbangsih dan doanya.
|
[1] Agama
yang dulu diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada para
sahabatnya -radhiyallahu anhum-, sebelum dikotori oleh takwil batil,
pemikiran sesat, dan bid'ah-bid'ah yang menodainya.
[2] Sebab,
hal itu dapat menjadi jalan bagi setan dalam merusak keikhlasan seorang yang
berilmu, dimana ia ingin menjadi yang tersohor dalam menjawab semua pertanyaan
dan problema umat.
[3] Apa
yang beliau ucapkan –wallahi- amat benar. Sebagian orang rela memutuskan
persaudaraannya dengan sahabatnya, hanya karena ingin meraih kepemimpinan.
Dunia di hatinya amat besar dibanding akhiratnya.

Komentar
Posting Komentar