Selasa, 24 Januari 2017

Jilbab, bukan Tradisi Arab!!



Jilbab, bukan Tradisi Arab!!

OLEH : 
Ust. ABDUL QODIR ABU FA'IZAH, Lc. 
-hafizhahullah-

Jilbab adalah pakaian kemuliaan bagi wanita muslimah. Jilbab, penjaga kesucian wanita dari sorotan mata para lelaki dan jilbab melahirkan kewibawaan dan kemuliaan bagi wanita muslimah dihadapan manusia.

Jilbab bukanlah budaya & tradisi Arab, sebab tradisi Arab sebelum datangnya Islam, mirip dengan tradisi wanita jahil di Indonesia yang suka "buka-bukaan" aurat dan kemolekan tubuh di depan manusia yang bukan mahramnya.

Allah -Tabaroka wa Ta'ala- berfirman saat memerintahkan para istri Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang merupakan teladan dan contoh bagi semua wanita muslimah setelahnya,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى  [الأحزاب : 33]
"Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu." (QS. Al-Ahzaab : 33)

Siapakah yang dimaksud dengan "orang-orang (wanita-wanita) jahiliyah yang terdahulu" ?

Dijelaskan oleh Al-Imam Abdur Rohman Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah-,
وفي { الجاهلية الأولى } أربعة أقوال .
أحدها : أنها كانت بين إِدريس ونوح ، وكانت ألف سنة ، رواه عكرمة عن ابن عباس .
والثاني : أنها كانت على عهد إِبراهيم عليه السلام ، وهو قول عائشة رضي الله عنها .
والثالث : بين نوح وآدم ، قاله الحكم .
والرابع : ما بين عيسى ومحمد عليهما السلام ، قاله الشعبي .
"Tentang orang-orang Jahiliyah yang dahulu, ada empat pendapat :
Pertama : orang-orang jahiliyah yang terdapat antara Nabi Idris dan Nabi Nuh, dan masanya adalah 1000 tahun. Diriwayatkan oleh Ikrimah dari Ibnu Abbas.
Kedua : orang-orang jahiliyah pada masa Nabi Ibrahim –alaihis salam-. Itu adalah pendapat A'isyah -radhiyallahu anha-.
Ketiga : (orang-orang jahiliyah) yang terdapat antara Nabi Nuh dan Adam. Pendapat ini dinyatakan oleh Al-Hakam.
Keempat : (orang-orang jahiliyah) yang ada diantara Nabi Isa dan Muhammad –alaihimas salam-. Pendapat ini dinyatakan oleh Asy-Sya'biy." [Lihat Zad Al-Masir (5/133)]

Keempat penafsiran ini tidaklah bertentangan antara satu dengan yang lainnya, sebab para ulama salaf  dalam menafsirkan kalimat "orang-orang (wanita-wanita) jahiliyah", hanyalah menafsirkannya dengan contoh, tidak menafsirkannya dengan defenisi dan pembatasan.

Jadi, semua kaum kafir sebelum Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, masuk dalam kategori jahiliyah, baik ia bangsa Arab atau selain Arab.

Jadi, yang dimaksud dengan "orang-orang jahiliyah" adalah orang-orang kafir sebelum diutusnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dari zaman Nabi Nuh sampai zaman Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Kemudian diterangkan oleh para mufassirin tentang gambaran dan cara wanita jahiliyah dahulu dalam berhias, bersolek dan bertingkah laku bahwa :
a.     para wanita mereka berjalan diantara kaum lelaki, tanpa ada rasa malu.
b.    Para wanita jahiliyah berlenggak-lenggok dan genit dalam berjalan.
c.     Para wanita jahiliyah dahulu saat keluar rumah hanya memakai pakaian yang semestinya dipakai di rumah untuk suami saja. Mereka hanya memakai pakaian saja tanpa penutup kepala.
d.    Para wanita jahiliyah dahulu saat keluar rumah, terkadang mereka hanya memakai khimar (penutup kepala semacam selendang), namun masih menampakkan lehernya yang terhiasi kalung, dan juga memperlihatkan telinganya yang terhiasi anting-anting.
e.     Mereka menampakkan sebagian dari badannya yang merupakan aurat, seperti rambut, leher, betis, kaki, dan lainnya.
f.      Saat keluar, para wanita jahiliyah menggunakan parfum dan bersolek demi menarik hati kaum pria.
g.     Saat keluar, mereka menampakkan bagian-bagian tubuh yang menarik kaum pria, seperti : rambut, lengan, betis, dan kaki, serta lekuk-lekuk tubuh mereka.

Demikian yang dijelaskan oleh para ulama tafsir dari kalangan salaf sebagaimana yang dinukilkan oleh Ath-Thobariy dalam Jami' Al-Bayan (20/259-260), Ibnul Jauziy dalam Zadul Masir (5/133), As-Sa'diy dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hlm. 663).

Pada awal-awal Islam sebelum turunnya perintah hijab dan jilbab, para wanita munafikin masih terimbas dengan tingkah laku wanita jahiliyah. Maka diturunkanlah ayat ini untuk membabat kebiasaan wanita jahiliyah dari diri para wanita muslimah[Lihat At-Tahrir wat Tanwir  (6/410) oleh Ibnu Asyur Al-Malikiy]

Kemudian turunlah perintah berhijab dan berjilbab dalam Suroh Al-Ahzab, ayat 59 :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا  [الأحزاب : 59]
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Abdur Rohman bin Nashir As-Sa'diy -rahimahullah- berkata,
هذه الآية، التي تسمى آية الحجاب، فأمر اللّه نبيه، أن يأمر النساء عمومًا، ويبدأ بزوجاته وبناته، لأنهن آكد من غيرهن، ولأن الآمر [لغيره] ينبغي أن يبدأ بأهله، قبل غيرهم كما قال تعالى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا }ز." اهـ من تفسير السعدي - (1 / 671)
"Ayat inilah yang dinamai dengan "AYAT HIJAB".
Allah memerintahkan Nabi-Nya agar memerintahkan kepada kaum wanita seluruhnya, dan Allah mulai pada istri-istri dan putri-putri beliau, karena mereka lebih ditekankan dibanding wanita-wanita lainnya, dan karena orang yang memerintah orang lain, sepantasnya ia memulai pada keluarganya, sebelum orang lain, sebagaimana yang Allah -Ta'ala- firmankan, "Wahai orang-orang beriman, lindungilah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka." [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 671]

Sejak turunnya ayat ini, maka penggunaan jilbab pun menjadi kewajiban bagi wanita muslimah, sehingga saat itu mereka pun dikenal dengan pakaian hijabnya yang bernama "JILBAB"  terbedakan dari BUDAYA & TRADISI ARAB yang masih berada di atas kekafiran dan kebebasannya.

Wanita muslimah sejak itu menjadi wanita yang terjaga kesuciannya dari gangguan tangan-tangan jahil, sementara wanita Arab yang masih kafir alias jahiliah hidup bebas tanpa aturan dalam berpakaian. Wanita jahiliyah tidak menggunakan jilbab, tapi mereka menampakkan kecantikan tubuhnya kepada kaum lelaki.

Ayat ini merupakan PEMISAH & PEMBEDA antara wanita muslimah dengan wanita jahiliyah. Karena itu, kita sesalkan di zaman kita yang sudah moderen ini, masih ada saja wanita muslimah bergaya dan berhias ala jahiliyah, tanpa mau menggunakan hijab berupa jilbab. Kalau pun ia sudah pakai jilbab, masih saja ia tampakkan lekuk-lekuk buah dadanya, pinggulnya, dan betisnya. Padahal semestinya semua itu disembunyikan agar jangan menjadi sebab terpancingnya syahwat birahi kaum lelaki.

Jadi, sekali lagi bahwa JILBAB bukanlah tradisi atau budaya bangsa Arab, tapi ia adalah syariat suci yang datang dari langit, bukan datang dan muncul dari ide-ide Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Jilbab, bukanlah tradisi yang diwarisi oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan kaum muslimin dari nenek moyang beliau yang hidup di atas jalan jahiliyah dan kekafiran.

Jilbab, bukanlah budaya yang lahir dari olah pikir Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- selaku manusia, tapi jilbab yang turun perintahnya dari langit ketujuh.

Para ulama menjelaskan bahwa tradisi atau budaya, hukumnya paling maksimal adalah mubah & TIDAK SAMPAI PADA TINGKATAN SUNNAH, APALAGI WAJIB, bahkan seringkali kita dapati ada budaya atau tradisi yang haram.

Sementara JILBAB yang Allah perintahkan, jelas hukumnya bukan mubah, bahkan wajib. Sebab, para ulama menjelaskan bahwa HUKUM ASAL PERINTAH ALLAH & RASULULLAH -SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM- adalah WAJIB.

Karena itu, para ulama telah ber-ijma' (bersepakat) sejak dari zaman Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sampai hari ini ulama ahlussunnah menyatakan WAJIBNYA JILBAB.[1]

Kesimpulan : jilbab bukanlah budaya atau tradisi siapapun, baik bangsa Arab, atau selainnya. Tapi jilbab adalah SYARIAT ISLAM yang wajib dipakai oleh setiap wanita muslimah, baik dari kalangan bangsa Arab, atau selainnya.


===============================================
DUKUNG KAMI :

Dalam membantu pembangunan Masjid IMAM SYAFI'I, POLMAN- SULBAR, milik Ahlus Sunnah Polman.

"Siapa yg membangun sebuah masjid karena Allah, maka Allah akan bangunkan untuknya sebuah istana di surga".[HR. Al-Bukhori & Muslim]

# Bagi anda yang ingin membangun istananya di surga, silakan kirim sebagian rezki anda melalui :

BRI.0259-01-035305-50-9
a/n. : YAYASAN AR-RAHMAH AL-MANDARY

Jazakumullohu khoiron atas sumbangsih dan doanya.
===============================================














[1] Jika pun hari ini ada yang menyelisihinya, maka penyelisihannya tidak teranggap. Karena, jika kita anggap, maka hal itu akan menyebabkan tuduhan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, para sahabat, dan ulama-ulama yang tidak terhitung bahwa mereka salah dalam ijma' (kesepakatannya) dalam MEWAJIBKAN JILBAB!! Subhanallah, apakah mungkin mereka semua salah, lalu kitalah yang benar?! Mustahil!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar